Warta Sinar Indonesia Group – Mediatama Bintang Lima Group

Kisah Nyata


Kisah Nyata Seorang Office Boy menjadi Vice President Citibank

Sungguh sebuah karunia yang luar biasa bagi saya bisa bertemu dengan seorang yang memiliki pribadi dan kisah menakjubkan. Dialah Houtman Zainal Arifin, seorang pedagang asongan, anak jalanan, Office Boy yang kemudian menjadi Vice President Citibank di Indonesia. Sebuah jabatan Nomor 1 di Indonesia karena Presiden Direktur Citibank sendiri berada di USA.

Tepatnya 10 Juni 2010, saya berkesempatan bertemu pak Houtman. Kala itu saya sedang mengikuti training leadership yang diadakan oleh kantor saya, Bank Syariah Mandiri di Hotel Treva International, Jakarta. Selama satu minggu saya memperoleh pelatihan yang luar biasa mencerahkan, salah satu nya saya peroleh dari Pak Houtman. Berikut kisah inspirasinya:

Sekitar tahun 60an Houtman memulai karirnya sebagai perantau, berangkat dari desa ke jalanan Ibukota. Merantau dari kampung dengan penuh impian dan harapan, Houtman remaja berangkat ke Jakarta. Di Jakarta ternyata Houtman harus menerima kenyataan bahwa kehidupan ibukota ternyata sangat keras dan tidak mudah. Tidak ada pilihan bagi seorang lulusan SMA di Jakarta, pekerjaan tidak mudah diperoleh. Houtman pun memilih bertahan hidup dengan profesi sebagai pedagang asongan, dari jalan raya ke kolong jembatan kemudian ke lampu merah menjajakan dagangannya.

Tetapi kondisi seperti ini tidak membuat Houtman kehilangan cita-cita dan impian. Suatu ketika Houtman beristirahat di sebuah kolong jembatan, dia memperhatikan kendaran-kendaraan mewah yang berseliweran di jalan Jakarta. Para penumpang mobil tersebut berpakaian rapih, keren dan berdasi. Houtman remaja pun ingin seperti mereka, mengendarai kendaraan berpendingin, berpakaian necis dan tentu saja memiliki uang yang banyak. Saat itu juga Houtman menggantungkan cita-citanya setinggi langit, sebuah cita-cita dan tekad diazamkan dalam hatinya.

Azam atau tekad yang kuat dari Houtman telah membuatnya ingin segera merubah nasib. Tanpa menunggu waktu lama Houtman segera memulai mengirimkan lamaran kerja ke setiap gedung bertingkat yang dia ketahui. Bila ada gedung yang menurutnya bagus maka pasti dengan segera dikirimkannya sebuah lamaran kerja. Houtman menyisihkan setiap keuntungan yang diperolehnya dari berdagang asongan digunakan untuk membiayai lamaran kerja.

Sampai suatu saat Houtman mendapat panggilan kerja dari sebuah perusahaan yang sangat terkenal dan terkemuka di Dunia, The First National City Bank (Citibank), sebuah bank bonafid dari USA. Houtman pun diterima bekerja sebagai seorang Office Boy. Sebuah jabatan paling dasar, paling bawah dalam sebuah hierarki organisasi dengan tugas utama membersihkan ruangan kantor, wc, ruang kerja dan ruangan lainnya.

Tapi Houtman tetap bangga dengan jabatannya, dia tidak menampik pekerjaan. Diterimanyalah jabatan tersebut dengan sebuah cita-cita yang tinggi. Houtman percaya bahwa nasib akan berubah sehingga tanpa disadarinya Houtman telah membuka pintu masa depan menjadi orang yang berbeda.

Sebagai Office Boy Houtman selalu mengerjakan tugas dan pekerjaannya dengan baik. Terkadang dia rela membantu para staf dengan sukarela. Selepas sore saat seluruh pekerjaan telah usai Houtman berusaha menambah pengetahuan dengan bertanya tanya kepada para pegawai. Dia bertanya mengenai istilah istilah bank yang rumit, walaupun terkadang saat bertanya dia menjadi bahan tertawaan atau sang staf mengernyitkan dahinya. Mungkin dalam benak pegawai “ngapain nih OB nanya-nanya istilah bank segala, kayak ngerti aja”. Sampai akhirnya Houtman sedikit demi sedikit familiar dengan dengan istilah bank seperti Letter of Credit, Bank Garansi, Transfer, Kliring, dll.

Suatu saat Houtman tertegun dengan sebuah mesin yang dapat menduplikasi dokumen (saat ini dikenal dengan mesin photo copy). Ketika itu mesin foto kopi sangatlah langka, hanya perusahaan perusahaan tertentu lah yang memiliki mesin tersebut dan diperlukan seorang petugas khusus untuk mengoperasikannya. Setiap selesai pekerjaan setelah jam 4 sore Houtman sering mengunjungi mesin tersebut dan minta kepada petugas foto kopi untuk mengajarinya. Houtman pun akhirnya mahir mengoperasikan mesin foto kopi, dan tanpa di sadarinya pintu pertama masa depan terbuka. Pada suatu hari petugas mesin foto kopi itu berhalangan dan praktis hanya Houtman yang bisa menggantikannya, sejak itu pula Houtman resmi naik jabatan dari OB sebagai Tukang Foto Kopi.

Menjadi tukang foto kopi merupakan sebuah prestasi bagi Houtman, tetapi Houtman tidak cepat berpuas diri. Disela-sela kesibukannya Houtman terus menambah pengetahuan dan minat akan bidang lain. Houtman tertegun melihat salah seorang staf memiliki setumpuk pekerjaan di mejanya. Houtman pun menawarkan bantuan kepada staf tersebut hingga membuat sang staf tertegun. “bener nih lo mo mau bantuin gua” begitu Houtman mengenang ucapan sang staff dulu. “iya bener saya mau bantu, sekalian nambah ilmu” begitu Houtman menjawab.

“Tapi hati-hati ya ngga boleh salah, kalau salah tanggungjawab lo, bisa dipecat lo”, sang staff mewanti-wanti dengan keras. Akhirnya Houtman diberi setumpuk dokumen, tugas dia adalah membubuhkan stempel pada Cek, Bilyet Giro dan dokumen lainnya pada kolom tertentu. Stempel tersebut harus berada di dalam kolom tidak boleh menyimpang atau keluar kolom. Alhasil Houtman membutuhkan waktu berjam-jam untuk menyelesaikan pekerjaan tersebut karena dia sangat berhati-hati sekali. Selama mengerjakan tugas tersebut Houtman tidak sekedar mencap, tapi dia membaca dan mempelajari dokumen yang ada. Akibatnya Houtman sedikit demi sedikit memahami berbagai istilah dan teknis perbankan. Kelak pengetahuannya ini membawa Houtman kepada jabatan yang tidak pernah diduganya.

Houtman cepat menguasai berbagai pekerjaan yang diberikan dan selalu mengerjakan seluruh tugasnya dengan baik. Dia pun ringan tangan untuk membantu orang lain, para staff dan atasannya. Sehingga para staff pun tidak segan untuk membagi ilmu kepadanya. Sampai suatu saat pejabat di Citibank mengangkatnya menjadi pegawai bank karena prestasi dan kompetensi yang dimilikinya, padahal Houtman hanyalah lulusan SMA.

Peristiwa pengangkatan Houtman menjadi pegawai Bank menjadi berita luar biasa heboh dan kontroversial. Bagaimana bisa seorang OB menjadi staff, bahkan rekan sesama OB mencibir Houtman sebagai orang yang tidak konsisten. Houtman dianggap tidak konsisten dengan tugasnya, “jika masuk OB, ya pensiun harus OB juga” begitu rekan sesama OB menggugat.

Houtman tidak patah semangat, dicibir teman-teman bahkan rekan sesama staf pun tidak membuat goyah. Houtman terus mengasah keterampilan dan berbagi membantu rekan kerjanya yang lain. Hanya membantulah yang bisa diberikan oleh Houtman, karena materi tidak ia miliki. Houtman tidak pernah lama dalam memegang suatu jabatan, sama seperti ketika menjadi OB yang haus akan ilmu baru. Houtman selalu mencoba tantangan dan pekerjaan baru. Sehingga karir Houtman melesat bak panah meninggalkan rekan sesama OB bahkan staff yang mengajarinya tentang istilah bank.

19 tahun kemudian sejak Houtman masuk sebagai Office Boy di The First National City Bank, Houtman mencapai jabatan tertingginya yaitu Vice President. Sebuah jabatan puncak Citibank di Indonesia. Jabatan tertinggi Citibank sendiri berada di USA yaitu Presiden Director yang tidak mungkin dijabat oleh orang Indonesia.

Sampai dengan saat ini belum ada yang mampu memecahkan rekor Houtman masuk sebagai OB pensiun sebagai Vice President, dan hanya berpendidikan SMA. Houtman pun kini pensiun dengan berbagai jabatan pernah diembannya, menjadi staf ahli Citibank Asia Pasifik, menjadi penasehat keuangan salah satu gubernur, menjabat CEO di berbagai perusahaan dan menjadi inspirator bagi banyak orang.

sumber : GoogleBottle

CINTA SEORANG BOCAH 7 TAHUN KEPADA SANG BUNDA

Seorang janda miskin Siu Lan punya anak umur 7 thn bernama Lie Mei. Kemiskinan membuat Lie Mei harus membantu ibunya berjual kue dipasar, karena miskin Lie Mei tidak pernah bermanja-manja kepada ibunya. Pada suatu musim dingin saat selesai bikin kue, Siu Lan melihat keranjang kuenya sudah rusak dan Siu Lan berpesan pada Lie Mei untuk nunggu dirumah karena ia akan membeli keranjang baru.Saat pulang Siu Lan tidak menemukan Lie Mei dirumah. Siu Lan langsung sangat marah.
Putrinya benar-benar tidak tau diri, hidup susah tapi masih juga pergi main-main, padahal tadi sudah dipesan agar menunggu rumah. Akhirnya Siu Lan pergi sendiri menjual kue dan sebagai hukuman pintu rumahnya dikunci dari luar agar Lie Mei tidak dapat masuk. Putrinya mesti diberi pelajaran, pikirnya geram.Sepulang dari jual kue Siu Lan menemukan Lie Mei, gadis kecil itu tergeletak didepan pintu. Siu Lan berlari memeluk Lie Mei yang membeku dan sudah tidak bernyawa.
Jeritan Siu Lan memecah kebekuan salju saat itu. Ia menangis meraung2, tetapi Lie Mei tetap tidak bergerak. Dengan segera Siu Lan membopong Lie Mei masuk kerumah. Siu Lan mengguncang2 tubuh beku putri kecilnya sambil meneriakkan nama Lie Mei. Tiba2 sebuah bingkisan kecil jatuh dari tangan Lie Mei. Siu Lan mengambil bungkusan kecil itu dan membuka isinya. Isinya sebuah biskuit kecil yg dibungkus kertas usang dan tulisan kecil yang ada dikertas adalah tulisan Lie Mei yang berantakan tp dpt dibaca,
“Mama pasti lupa, ini hari istimewa bagi mama, aku membelikan biskuit kecil ini untuk hadiah, uangku tidak cukup untuk membeli biskuit yang besar… Mama selamat ulang tahun”.KISAH NYATA ini dimuat di harian  Xia Wen Pao-Cina, thn 2007 (Negative thinking, dapat menyebabkan penyesalan seumur hidup…. Think Positive ) Berpikirlah dengan bijak sebelum bertindak, penyesalan kemudian tak ada gunanya.
sumber : masenchipz

Kebesaran Jiwa Seorang Ibu

Kejadian ini terjadi di sebuah kota kecil di Taiwan, Dan sempat dipublikasikan lewat media cetak dan electronic.
Ada seorang pemuda bernama A be (bukan nama sebenarnya). Dia anak yg cerdas, rajin dan cukup cool. Setidaknya itu pendapat cewe2 yang kenal dia. Baru beberapa tahun lulus dari kuliah dan bekerja di sebuah perusahaan swasta, dia sudah di promosikan ke posisi manager. Gaji-nya pun lumayan.

Tempat tinggalnya tidak terlalu jauh dari kantor. Tipe orangnya yang humoris dan gaya hidupnya yang sederhana membuat banyak teman2 kantor senang bergaul dengan dia, terutama dari kalangan cewe2 jomblo. Bahkan putri owner perusahaan tempat ia bekerja juga menaruh perhatian khusus pada A be.

Dirumahnya ada seorang wanita tua yang tampangnya seram sekali. Sebagian kepalanya botak dan kulit kepala terlihat seperti borok yang baru mengering. Rambutnya hanya tinggal sedikit dibagian kiri dan belakang. Tergerai seadanya sebatas pundak. Mukanya juga cacat seperti luka bakar. Wanita tua ini betul2 seperti monster yang menakutkan. Ia jarang keluar rumah bahkan jarang keluar dari kamarnya kalau tidak ada keperluan penting. Wanita tua ini tidak lain adalah Ibu kandung A Be.

Walau demikian, sang Ibu selalu setia melakukan pekerjaan rutin layaknya ibu rumah tangga lain yang sehat. Membereskan rumah, pekerjaan dapur, cuci-mencuci (pakai mesin cuci) dan lain-lain. Juga selalu memberikan perhatian yang besar kepada anak satu2-nya A be. Namun A be adalah seorang pemuda normal layaknya anak muda lain. Kondisi Ibunya yang cacat menyeramkan itu membuatnya cukup sulit untuk mengakuinya. Setiap kali ada teman atau kolega business yang bertanya siapa wanita cacat dirumahnya, A be selalu menjawab wanita itu adalah pembantu yang ikut Ibunya dulu sebelum meninggal. “Dia tidak punya saudara, jadi saya tampung, kasihan.” jawab A be.

Hal ini sempat terdengar dan diketahui oleh sang Ibu. Tentu saja Ibunya sedih sekali. Tetapi ia tetap diam dan menelan ludah pahit dalam hidupnya. Ia semakin jarang keluar dari kamarnya, takut anaknya sulit untuk menjelaskan pertanyaan mengenai dirinya. Hari demi hari kemurungan sang Ibu kian parah. Suatu hari ia jatuh sakit cukup parah. Tidak kuat bangun dari ranjang. A be mulai kerepotan mengurusi rumah, menyapu, mengepel, cuci pakaian, menyiapkan segala keperluan sehari-hari yang biasanya di kerjakan oleh Ibunya. Ditambah harus menyiapkan obat-obatan buat sang Ibu sebelum dan setelah pulang kerja (di Taiwan sulit sekali cari pembantu, kalaupun ada mahal sekali).

Hal ini membuat A be jadi BT (bad temper) dan uring-uringan dirumah. Pada saat ia mencari sesuatu dan mengacak-acak lemari Ibunya, A be melihat sebuah box kecil. Didalam box hanya ada sebuah foto dan potongan koran usang. Bukan berisi perhiasan seperti dugaan A be. Foto berukuran postcard itu tampak seorang wanita cantik. Potongan koran usang memberitakan tentang seorang wanita berjiwa pahlawan yang telah menyelamatkan anaknya dari musibah kebakaran. Dengan memeluk erat anaknya dalam dekapan, menutup dirinya dengan sprei kasur basah menerobos api yang sudah mengepung rumah. Sang wanita menderita luka bakar cukup serius sedang anak dalam dekapannya tidak terluka sedikitpun.

Walau sudah usang, A be cukup dewasa untuk mengetahui siapa wanita cantik di dalam foto dan siapa wanita pahlawan yang dimaksud dalam potongan koran itu. Dia adalah Ibu kandung A be. Wanita yang sekarang terbaring sakit tak berdaya. Spontan air mata A be menetes keluar tanpa bisa di bendung. Dengan menggenggam foto dan koran usang tersebut, A be langsung bersujud disamping ranjang sang Ibu yang terbaring. Sambil menahan tangis ia meminta maaf dan memohon ampun atas dosa-dosanya selama ini. Sang Ibu-pun ikut menangis, terharu dengan ketulusan hati anaknya. ” Yang sudah-sudah nak, Ibu sudah maafkan. Jangan di ungkit lagi”.

Setelah ibunya sembuh, A be bahkan berani membawa Ibunya belanja kesupermarket. Walau menjadi pusat perhatian banyak orang, A be tetap cuek bebek. Kemudian peristiwa ini menarik perhatian kuli tinta (wartawan). Dan membawa kisah ini kedalam media cetak dan elektronik.
Teman2 yang masih punya Ibu (Mama atau Mami) di rumah, biar bagaimanapun kondisinya, segera bersujud di hadapannya. Selagi masih ada waktu. Jangan sia-sia kan budi jasa ibu selama ini yang merawat dan membesarkan kita tanpa pamrih. kasih seorang ibu sungguh mulia. – happy ending –

sumber : forum.kapanlagi.com

KEBOHONGAN SEORANG IBU

Cerita bermula ketika aku masih kecil, aku terlahir sebagai seorang anak laki-laki di sebuah keluarga yang miskin. Bahkan untuk makan saja, seringkali kekurangan. Ketika makan, ibu sering memberikan bahagian nasinya untukku. Sambil memindahkan nasi ke mangkukku, ibu berkata : “Makanlah nak, aku tidak lapar”

KEBOHONGAN IBU YANG PERTAMA
Ketika saya mulai tumbuh dewasa, ibu yang gigih sering meluangkan waktu senggangnya untuk pergi memancing di kolam dekat rumah, ibu berharap dari ikan hasil pancingan, ia dapat memberikan sedikit makanan bergizi untuk pertumbuhan. Sepulang memancing, ibu memasak sup ikan yang segar dan mengundang selera. Sewaktu aku memakan sup ikan itu, ibu duduk disamping kami dan memakan sisa daging ikan yang masih menempel di tulang yang merupakan bekas sisa tulang ikan yang aku makan. Aku melihat ibu seperti itu, hati juga tersentuh, lalu menggunakan suduku dan memberikannya kepada ibuku. Tetapi ibu dengan cepat menolaknya, ia berkata : “Makanlah nak, aku tidak suka makan ikan”

KEBOHONGAN IBU YANG KE DUA
Sekarang aku sudah masuk Sekolah Menengah, demi membiayai sekolah abang dan kakakku, ibu pergi ke koperasi untuk membawa sejumlah kotak mancis untuk ditempel, dan hasil tempelannya itu membuahkan sedikit uang untuk menutupi kepentingan hidup. Di kala musim sejuk tiba, aku bangun dari tempat tidurku, melihat ibu masih bertumpu pada lilin kecil dan dengan gigihnya melanjutkan pekerjaannya menempel kotak mancis. Aku berkata : “Ibu, tidurlah, sudah malam, besok pagi ibu masih harus kerja.” Ibu tersenyum dan berkata : “Cepatlah tidur nak, aku tidak penat”

KEBOHONGAN IBU YANG KE TIGA
Ketika ujian tiba, ibu meminta cuti kerja supaya dapat menemaniku pergi ujian. Ketika hari sudah siang, terik matahari mulai menyinari, ibu yang tegar dan gigih menunggu aku di bawah terik matahari selama beberapa jam. Ketika bunyi loceng berbunyi, menandakan ujian sudah selesai. Ibu dengan segera menyambutku dan menuangkan teh yang sudah disiapkan dalam botol yang dingin untukku. Teh yang begitu kental tidak dapat dibandingkan dengan kasih sayang yang jauh lebih kental. Melihat ibu yang dibanjiri peluh, aku segera memberikan gelasku untuk ibu sambil menyuruhnya minum. Ibu berkata : “Minumlah nak, aku tidak haus!”

KEBOHONGAN IBU YANG KE EMPAT
Setelah kepergian ayah karena sakit, ibu yang malang harus merangkap sebagai ayah dan ibu. Dengan berpegang pada pekerjaan dia yang dulu, dia harus membiayai keperluan hidup sendiri. Kehidupan keluarga kita pun semakin susah dan susah. Tiada hari tanpa penderitaan. Melihat kondisi keluarga yang semakin parah, ada seorang pakcik yang baik hati yang tinggal di dekat rumahku pun membantu ibuku baik masalah besar maupun masalah kecil. Tetangga yang ada di sebelah rumah melihat kehidupan kita yang begitu sengsara, seringkali menasehati ibuku untuk menikah lagi. Tetapi ibu yang memang keras kepala tidak mengindahkan nasehat mereka, ibu berkata : “Saya tidak butuh cinta”

KEBOHONGAN IBU YANG KE LIMA
Setelah aku, kakakku dan abangku semuanya sudah tamat dari sekolah dan bekerja, ibu yang sudah tua sudah waktunya pencen. Tetapi ibu tidak mahu, ia rela untuk pergi ke pasar setiap pagi untuk jualan sedikit sayur untuk memenuhi keperluan hidupnya. Kakakku dan abangku yang bekerja di luar kota sering mengirimkan sedikit uang untuk membantu memenuhi keperluan ibu, tetapi ibu berkeras tidak mau menerima uang tersebut. Malahan mengirim balik uang tersebut. Ibu berkata : “Saya ada duit”

KEBOHONGAN IBU YANG KE ENAM
Setelah lulus dari ijazah, aku pun melanjutkan pelajaran untuk buat master dan kemudian memperoleh gelar master di sebuah universiti ternama di Amerika berkat sebuah biasiswa di sebuah syarikat swasta. Akhirnya aku pun bekerja di syarikat itu. Dengan gaji yang lumayan tinggi, aku bermaksud membawa ibuku untuk menikmati hidup di Amerika. Tetapi ibu yang baik hati, bermaksud tidak mahu menyusahkan anaknya, ia berkata kepadaku : “Aku tak biasa tinggal negara orang”

KEBOHONGAN IBU YANG KE TUJUH
Setelah memasuki usianya yang tua, ibu terkena penyakit kanser usus, harus dirawat di hospital, aku yang berada jauh di seberang samudera atlantik terus segera pulang untuk menjenguk ibunda tercinta. Aku melihat ibu yang terbaring lemah di ranjangnya setelah menjalani pembedahan. Ibu yang kelihatan sangat tua, menatap aku dengan penuh kerinduan. Walaupun senyum yang tersebar di wajahnya terkesan agak kaku karena sakit yang ditahannya. Terlihat dengan jelas betapa penyakit itu menjamahi tubuh ibuku sehingga ibuku terlihat lemah dan kurus kering. Aku menatap ibuku sambil berlinang air mata. Hatiku perit, sakit sekali melihat ibuku dalam keadaan seperti ini. Tetapi ibu dengan tegarnya berkata : “Jangan menangis anakku, Aku tidak kesakitan”

KEBOHONGAN IBU YANG KE DELAPAN.
Setelah mengucapkan kebohongannya yang kelapan, ibuku tercinta menutup matanya untuk yang terakhir kalinya. Dari cerita di atas, saya percaya teman-teman sekalian pasti merasa tersentuh dan ingin sekali mengucapkan : “Terima kasih ibu..!” Coba dipikir-pikir teman, sudah berapa lamakah kita tidak menelepon ayah ibu kita? Sudah berapa lamakah kita tidak menghabiskan waktu kita untuk berbincang dengan ayah ibu kita? Di tengah-tengah aktiviti kita yang padat ini, kita selalu mempunyai beribu-ribu alasan untuk meninggalkan ayah ibu kita yang kesepian. Kita selalu lupa akan ayah dan ibu yang ada di rumah. Jika dibandingkan dengan pasangan kita, kita pasti lebih peduli dengan pasangan kita. Buktinya, kita selalu risau akan kabar pasangan kita, risau apakah dia sudah makan atau belum, risau apakah dia bahagia bila di samping kita. Namun, apakah kita semua pernah merisaukan kabar dari orangtua kita? Risau apakah orangtua kita sudah makan atau belum? Risau apakah orangtua kita sudah bahagia atau belum? Apakah ini benar? Kalau ya, coba kita renungkan kembali lagi… Di waktu kita masih mempunyai kesempatan untuk membalas budi orangtua kita, lakukanlah yang terbaik. Jangan sampai ada kata “MENYESAL” di kemudian hari.

sumber : /www.ubb.ac.id/

BERLIMPAHAN HARTA ADALAH KEMISKINAN HATI DAN MARTABATNYA

Oleh :  Tb. Sjafri Mangkuprawira

Adakah beda antara kemiskinan absolut dan kemiskinan nurani? Beda dua bentuk kemiskinan itu sangat signifikan. Kemiskinan absolut disebabkan minimnya, bahkan nol, akses sumberdaya fisik dan non-fisik yang dimiliki seseorang untuk berusaha. Yang dimiliki tinggal tenaganya saja. Akibatnya kebutuhan hidup walau minimum tidak terpenuhi secara cukup. Sementara kemiskinan nurani tidak selalu sejalan dengan kemiskinan absolut. Artinya bisa jadi secara fisik seseorang kaya harta atau berstatus sosial relatif tinggi tetapi ternyata miskin nurani. Lebih tegasnya kemiskinan nurani  ditunjukkan dengan kurangnya kepekaan dalam bentuk kepeduliaan dari seseorang atau sekelompok orang akan keadaan lingkungan masyarakat yang tertinggal.

Sebaliknya mereka yang tergolong miskin harta bisa jadi kaya akan nurani. Saya sering meneteskan air mata ketika melihat  acara serial khusus di salah satu saluran televisi dimana ada  seseorang yang termasuk golongan tidak kaya, hidup pas-pasan, ternyata secara ikhlas mau menolong mereka yang membutuhkan bantuannya. Ada yang membantu dalam bentuk uang seadanya, pakaian, makanan, tenaga dan bahkan ada yang mendonorkan darahnya untuk membantu seseorang yang akan dioperasi. Ternyata di dalam nuraninya tersimpan mutiara hati kepedulian untuk merasakan penderitaan orang lain. Itulah suatu miniatur sosial si miskin harta tapi kaya nurani. Namun yang jelas ada juga seseorang yang kaya harta dan sekaligus kaya nurani. Subhanallah.

Ketika beberapa hari lalu tersiar berita ada anggota DPR yang tertangkap lagi karena kasus suap untuk suatu proyek tertentu, saya hanya mengurut dada. Betapa begitu galaunya hati ketika kemiskinan masih merajalela namun di sudut sana ada individu yang miskin nurani. Mudahnya keputusan untuk berbuat moral hazard seakan tak ada lagi kisi-kisi norma etika berkehidupan sosial. Solidaritas sosial dikorbankan demi kepentingan individu.

Bandingkan dengan fenomena ini yakni kalau DPR sedang membahas adanya kenaikan tunjangan anggota DPR. Pasti  mereka tersenyum simpul dan mengiakan. Mengapa mereka begitu teganya menutup mata-telinga dan hati ditengah-tengah penderitaan rakyat? Dimanakah kekayaan nurani mereka yang mengaku dirinya wakil rakyat? Kemana bersembunyinya hati nurani mereka yang tergolong lantang sering mengeritik kebijakan-kebijakan pemerintah selama ini?.  Adaptasi dari Kemiskinan Nurani:Ironi.Tb.Sjafri Mangkuprawira. 2006. Rona Wajah.Coretan seorang Dosen. PT IPB Press.

sumber : ronawajah.wordpress.com

ANAK KOLONG JEMBATAN SUKSES JADI PENGUSAHA MEDIA TERBESAR DI INDONESIA

Surya Paloh, 40 tahun, lahir di Tanah Rencong, di daerah yang tak pernah dijajah Belanda. Ia besar di kota Pematang Siantar, Sumut, di daerah yang memunculkan tokoh-tokoh besar semacam TB Simatupang, Adam Malik, Parada Harahap, A.M. Sipahutar, Harun Nasution. Ia menjadi pengusaha di kota Medan, daerah yang membesarkan tokoh PNI dan tokoh bisnis TD Pardede.

Aktifitas politiknya yang menyebabkan Surya Paloh pindah ke Jakarta, menjadi anggota MPR dua periode. Justru di kota metropolitan ini, kemudian Surya Paloh terkenal sebagai seorang pengusaha muda Indonesia. Surya Paloh mengenal dunia bisnis tatkala ia masih Remaja. Sambil Sekolah ia berdagang teh, ikan asin, karung goni, dll. Ia membelinya dari dua orang ‘toke’ sahabat yang sekaligus gurunya dalam dunia usaha, lalu dijual ke beberapa kedai kecil atau ke perkebunan (PTP-PTP).

Di Medan, Surya Paloh mendirikan perusahaan karoseri sekaligus menjadi agen penjualan mobil. Sembari berdagang, Surya Paloh juga menekuni kuliahnya di Fakultas Hukum Universitas Sumatera Utara dan Fakultas Sosial Politik, Universitas Islam Sumater Utara, Medan. Di kota yang terkenal keras dan semrawut ini, keinginan berorganisasi yang sudah berkembang sejak dari kota Pematang Siantar, semakin tumbuh subur dalam dirinya. Situasi pada saat itu, memang mengarahkan mereka aktif dalam organisasi massa yang sama-sama menentang kebijakan salah dari pemerintahan orde lama.

Surya Paloh menjadi salah seorang pimpinan Kesatuan Aksi Pemuda Pelajar Indonesia (KAPPI) Setelah KAPPI bubar, ia menjadi Koordinator Pemuda dan Pelajar pada Sekber Golkar. Beberapa tahun kemudian, Surya Paloh mendirikan Organisasi Putra-Putri ABRI (PP-ABRI), lalu ia menjadi Pimpinan PT-ABRI Sumut. Bahkan organisasi ini, pada tahun 1978, didirikannya bersama anak ABRI yang lain, di tingkat pusat Jakarta, dikenal dengan nama Forum Komunikasi Putra-Putri Purnawirawan Indonesia (FKPPI).

Kesadarannya bahwa dalam kegiatan politik harus ada uang sebagai biaya hidup dan biaya perjuangan, menyebabkan ia harus bekerja keras mencari uang, dengan mendirikan perusahaan atau menjual berbagai jenis jasa. Ia mendirikan perusahaan jasa boga, yang belakangan dikenal sebagai perusahaan catering terbesar di Indonesia. Keberhasilannya sebagai pengusaha jasa boga, menyebabkan ia lebih giat belajar menambah ilmu dan pengalaman, sekaligus meningkatkan aktifitasnya di organisasi. Menyusuri kesuksesan itu, ia melihat peluang di bidang usaha penerbitan pers. Surya Paloh mendirikan Surat Kabar Harian Prioritas. Koran yang dicetak berwarna ini, laku keras.

Akrab dengan pembacanya yang begitu luas sampai ke daerah-daerah. Sayang, surat kabar harian itu tidak berumur panjang, keburu di cabut SIUPP-nya oleh pemerintah. Isinya dianggap kurang sesuai dengan Kode Etik Jurnalistik Indonesia. Kendati bidang usaha penerbitan pers mempunyai risiko tinggi, bagi Surya Paloh, bidang itu tetap merupakan lahan bisnis yang menarik. Ia memohon SIUPP baru, namun, setelah dua tahun tak juga keluar. Minatnya di bisnis pers tak bisa dihalangi, ia pun kerjasama dengan Achmad Taufik Menghidupkan kembali Majalah Vista. Pada tahun 1989, Surya Paloh bekerja sama dengan Drs. T. Yously Syah mengelola koran Media Indonesia.

Atas persetujuan Yously sebagai pemilik dan Pemrednya, Surya Paloh memboyong Media Indonesia ke Gedung Prioritas. Penyajian dan bentuk logo surat kabar ini dibuat seperti Almarhum Prioritas. Kemajuan koran ini, menyebabkan Surya Paloh makin bersemangat untuk melakukan ekspansi ke berbagai media di daerah. Disamping Media Indonesia dan Vista yang terbit di Jakarta, Surya Paloh bekerjasama menerbitkan sepuluh penerbitan di daerah. Pada umurnya yang masih muda, 33 tahun, Surya Paloh berani mempercayakan bisnis cateringnya pada manajer yang memang disiapkannya. Pasar catering sudah dikuasainya, dan ia menjadi the best di bisnis itu. Lalu, ia mencari tantangan baru, masuk ke bisnis pers.

Padahal, bisnis pers adalah dunia yang tidak diketahuinya sebelum itu. Kewartawanan juga bukan profesinya, tetapi ia berani memasuki dunia ini, memasuki pasar yang kelihatannya sudah jenuh. Ia bersaing dengan Penerbit Gramedia Group yang dipimpin oleh Yakob Utama, wartawan senior. Ia berhadapan dengan Kartini Grup yang sudah puluhan tahun memasuki bisnis penerbitan.

Ia tidak segan pada Pos Kota Group yang diotaki Harmoko, mantan Menpen RI. Bahkan, ia tidak takut pada Grafisi Group yang di-back up oleh pengusaha terkenal Ir. Ciputra, bos Jaya Group. Kendati kondisi pasar pers begitu ramai dengan persaingan. Surya Paloh sedikit pun tak bergeming. Bahkan ia berani mempertaruhkan modal dalam jumlah relatif besar, dengan melakukan terobosan-terobosan baru yang tak biasa dilakukan oleh pengusaha terdahulu. Dengan mencetak berwarna misalnya. Ia berani menghadapi risiko rugi atau bangkrut. Ia sangat kreatif dan inovatif. Dan, ia berhasil. Surya Paloh menghadirkan koran Proritas di pentas pers nasional dengan beberapa keunggulan.

Pertama, halaman pertama dan halaman terakhir di cetak berwarna. Kedua, pengungkapan informasi kelihatan menarik dan berani. Ketika, foto yang disajikan dikerjakan dengan serius. Faktor-faktor itulah yang menyebabkan koran ini dalam waktu singkat, berhasil mencapai sirkulasi lebih 100 ribu eksemplar. Tidak sampai setahun, break event point-nya sudah tercapai. Ancaman yang selalu menghantui Prioritas justru bukan karena kebangkrutan, tetapi pencabutan SIUPP oleh pemerintah. Terbukti kemudian, ancaman itu datang juga.

Koran Prioritasnya mati dalam usia yang terlalu muda. Pemberitaannya dianggap kasar dan telanjang. Inilah risiko terberat yang pernah dialami Surya Paloh. Ia tidak hanya kehilangan sumber uang, tetapi ia juga harus memikirkan pembayaran utang investasi. Dalam suasana yang sangat sulit itu, ia tidak putus asa. Ia berusaha membayar gaji semua karyawan Prioritas, sambil menyusun permohonan SIUPP baru dari pemerintah.

Namun permohonan itu tidak dikabulkan pemerintah. Beberapa wartawan yang masih sabar, tidak mau pindah ke tempat lain, dikirim Surya Paloh ke berbagai lembaga manajemen untuk belajar. Pers memang memiliki kekuatan, di negara barat, ia dikenal sebagai lembaga keempat setelah legislatif, yudikatif dan eksekutif. Apalagi kebesaran tokoh-tokoh dari berbagai disiplin ilmu atau tokoh-tokoh dalam masyarakat, sering karena peranan pers yang mempublikasikan mereka. Bagaimana seorang tokoh diakui oleh kalangan masyarakat secara luas, kalau ia di boikot oleh pers. Dengan demikian, bisnis pers memang prestisius, memberi kebanggaan, memberi kekuatan dan kekuasaan. Dan, itulah bisnis Surya Paloh.

sumber :  elqorni.wordpress.com

Rian, Masa Kanak-kanaknya Hilang Korban Tsunami

Bocah malang dari tanah rencong Aceh kini tinggal sebatang kara tanpa keluarga, Rian harus mengais rezeki dari kaki ke kaki. Keadaan ini yang membawanya harus dihadapi penuh dengan ketabahan dan kesabaran, karena Tsunami yang merampas kebahagiaan masa kanak-kanaknya.

Kawasan Taman Sari Banda Aceh, kini tempat sandaran hidupnya mengais rezeki dari kaki ke kaki demi mempertahankan hidupnya yang kian tak menentu.

Rian, menatap ke setiap sudut tempat yang diramai pengunjung, dengan tidak malu-malu dirinya mendekati setiap orang yang mengenakan sepatu berkulit, dirinya pun menawarkan jasa kepada mereka untuk disemirkan sepatuya.

Begitulah aktivitas Rian Saputra (13) saban hari. Usai berstatus yatim piatu, hidupnya berubah 180 derajat. Rian jadi anak liar setelah ditinggal kedua orangtuanya yang raib ditelan musibah tsunami lima tahun silam.

Bermodal sepeda hibah seorang dermawan dan sebuah kotak berisi perkakas semir sepatu, dia berpetualang dari satu warung ke warung lainnya di Banda Aceh, untuk mengais rezeki tiap hari. Pendidikannya pun rela dikorbankan.  “Nggak sekolah lagi,” kata Rian singkat.

Seusai menamatkan sekolah di SD Muhammadiyah Banda Aceh, Rian sempat melanjutkan sekolah ke SMP Negeri 17 Banda Aceh. Namun pada setelah beranjak ke kelas dua, dia mengundurkan diri yang kemudian memilih untuk menjadi tukang semir sepatu. “Saya bisa beli apa yang saya suka dengan bekerja seperti ini,” ujarnya.

Dari jerih payahnya Rian kerap mendapatkan bayaran dibayar 5000 rupiah setiap sepasang sepatu yang disemirnya. Sedangkan untuk omsetnya selalu tidak menentu. Kalau lagi bagus rezekinya terkadang bisa mencapai 50.000 rupiah perhari, itupun kalau lagi ramai pengunjung tempat yang dijajakinya. Bahkan tidak jarang pula pernah seharian penuh Rian tidak mendapatkan uang.

Rian asal Dusun Tongkol, Desa Ulee Lheu, Kecamatan Meuraksa, Banda Aceh. Saat tsunami menghujam Aceh 26 Desember 2004, kawasan itu lenyap. Sekitar 14 ribu warga di sana termasuk keluarga Rian jadi korban.

Selamat dari amuk ombak gergaji, Rian dibawa oleh orang yang tak dikenalnya ke Lhoksuemawe, Aceh.

“Di sana dia disuruh kerja semir sepatu. Sempat bekerja beberapa bulan kemudian dia lari karena merasa dirinya mau dijual,” tutur Nilawati (40) ibu angkat Rian saat ditemui, di rumahnya, beberapa waktu lalu.

Terlunta-lunta di kota kaya minyak dan gas alam itu, Rian akhirnya diboyong seseorang ke Banda Aceh. Nilawati dan suaminya Salmi (45) menampung bocah malang itu di rumah kumuh miliknya di bantaran Krueng Daroy, Blower, Kecamatan Baiturrahman, Banda Aceh sejak 2007.

Nilawati dan Salmi bukan keluarga berada. Untuk menutupi biaya hidup, keduanya bekerja menjaja makanan ringan dan membakar jagung saban sore di Pantai Ulee Lheu. Pendapatannya sehari jauh dari cukup. Keduannya memiliki enam anak.

Kehadiran Rian di rumah berkontruksi kayu mirip gubuk itu jelas menambah beban biaya keluarga sangat sederhana itu. Tapi, Nilawati mengaku ikhlas menampung Rian.

“Apa yang kami makan, kami kasih untuk dia. Rian sudah kami anggap anak kami sendiri, kami ikhlas, apalagi dia sudah yatim piatu,” ujarnya.

Nilawati ikut membiayai Rian melanjutkan sekolahnya dan mengaji di Taman Pendidikan Alquran (TPA) seperti anak lain seusianya. Tapi, bocah itu lebih memilih bekerja.

Petualangan hidup yang dihadapi Rian sangatlah keras, tidak seperti anak-anak lain di luar Banda Aceh, atau di daerah-daerah lain di luar Sumatera.

Dari keadaan hidup yang keras, membuat Rian semakin tertutup. Dia tak mengungkap alasannya meninggalkan bangku sekolah. Bahkan dia juga enggan berkisah kehidupannya bersama keluarga kandung sebelum tsunami. “Malah saya sendiri tidak tau nama orangtua kandung dia itu siapa,” kata Nilawati.

Dia juga tak mudah percaya kepada semua orang. Kalau belum dikenalnya, sulit diajak berbicara. Malah, ada beberapa yang mendekati Rian dan mengakunya orangtua bocah itu, tapi Rian menolak tak mau ikut.

Tiga tahun bersama keluarga Nilawati beberapa orangtua asuh sempat mendekati Rian untuk diangkat menjadi anaknya. Tapi, Rian lebih memilih hidup di keluarga Nilawati.

Ironinya, meski dia korban tsunami, Rian tak pernah mendapat bantuan dari Pemerintah. Warisan orangtuanya juga tak diketahuinya. “Rian tidak pernah dapat bantuan. Kami tidak berharap dibantu, tapi setidaknya ada kepedulian Pemerintah,” ujar Nilawati.

Selama Piala Dunia 2010 bergulir kehidupan Rian makin misterius. Dia jarang pulang ke rumah, kecuali untuk mengganti baju. Nilawati sendiri sulit mendeteksi keberadaan anak angkatnya itu. “Saya sudah nasihati dia, tapi memang Rian susah diatur jadi saya tidak tahu harus berbuat apa. Saya nggak mau dia tersinggung,” tuturnya.

Mirisnya nasib Rian. Di saat anak seusianya mendapat pendidikan dan kehidupan layak, dia justru jadi bocah liar, bergerliya di jalanan.

Malam itu, jam menunjukkan pukul 19.40 WIB. Di balik meja-meja pengunjung, Rian pelan hilang meninggalkan warung kopi di kawasan Taman Sari, Banda Aceh. Mendayung sepeda sambil menenteng sebuah kotak kayu, dia kembali melanjutkan petualangnya ke warung lain, menawarkan jasa, untuk kaki-kaki bersepatu.

Dilansir ulang : Rohmat Syaifudin

Sumber :  okezone.news.com / Salman Mardira

“Aku kapok jadi caleg DPR RI”.

Mungkinkah kalimat ini yang akan keluar dari mulut para calon legislatif di DPR 2014 nanti? Meskipun tugas utama DPR adalah legislagasi, anggaran dan pengawasan yang didasarkan kepentingan rakyat dan negara,  namun tahta, harta, nama dan berbagai fasilitas lah yang menjadi daya pikat terbesar para caleg DPR ketika mereka duduk di Senayan. Tidak bisa dipungkiri bahwa sebagian besar para caleg menjadikan kursi di Senayan sebagai investasi yang sangat menguntungkan jika menang atau buntung jika kalah.

Dengan penghasilan rata-rata Rp 40-an juta ke atas, maka selama 5 tahun, seorang DPR akan menjadi miliarder dengan total gaji lebih Rp 2.5 miliar rupiah. Namun, tentu masih ada sebagian dari para caleg yang benar-benar memiliki motivasi untuk mengaspirasikan kepentingan rakyat dan memajukan bangsa ini.

DPR itu apa?

Seorang anggota DPR sudah semestinya adalah orang-orang yang pilihan yang mampu berpikir, berbicara dan berbuat cerdas dan telaten dalam mengerjakan berbagai tugas PENTING dan krusial. Sudah menjadi keharusan tiap caleg DPR mengetahui bahwa menjadi anggota DPR bukan hanya hadir, duduk manis dan menyanyikan lagu setuju. Bukan juga hanya jalan-jalan ke luar negeri dengan kata “studi banding”. Namun, selain tugas utama dalam membentuk Undang Undang, budgeting (anggaran pendapatan dan belanja), serta pengawasan kebijakan pemerintah, DPR juga harus cermat dan benar dalam menguji, menyetujui calon duta besar dan konsul, ketua KPK,  ketua berbagai komisi nasional, perjanjian antar negara, amnesti, abolisi. Disamping itu, DPR harus cerdas (memiliki pengetahuan) dalam mengajukan hak interplasi, angket dan menyatakan pendapat. Masih banyak lagi tugas-tugas besar dan penting yang dihadapi oleh anggota DPR, misalnya pemilihan anggota BPK, menyetujui ketua Hakim Agung, anggota Komisi Yudisial, yang secara umum dibagi dalam komisi-komisi DPR.

Jika kita melihat dengan cermat tugas-tugas DPR, sudah semestinya orang-orang yang berkompeten (cerdas,  berpengetahuan, beretika-moral, berjiwa sosial) yang mengajukan diri sebagai wakil rakyat. Akan menjadi sangat sulit sekali DPR berkualitas, jika hanya segelintir dewan yang benar-benar berkompeten berjuang, sedangkan sebagiannya lagi tidak hadir dikala rapat, bolos di waktu sidang, dan absen di hampir setiap rapat paripurna.

Dari penjelasan ini, jelas bahwa seorang DPR harus memiliki etikad, semangat, pengetahuan dan keuletan tinggi, atau dalam kata lain “pengabdian”. Jika para tentara berjuang dengan mempertaruhkan nyawa demi setiap jengkal tanah, maka sudah seyogianya para anggota dewan berjuang dengan mempertaruhkan pikiran dan tenaga demi kemajuan bangsa ini. Ingat…DPR adalah untuk melayani rakyat, mengaspirasikan kepentingan rakyat, seluruh rakyat Indonesia, bukan kepentingan partai semata atau bahkan kepentingan pribadi dan keluarga.

Dapatkah DPR Periode 2009-2014 Mengabdi Sepenuh Hati?

Pada pemilu 2009 kemarin, jumlah caleg DPR RI meningkat lebih dari 48 % dibanding 2004. Dari 7756 caleg DPR, kini meningkat menjadi 11.301 caleg yang akan memperebutkan 560 kursi di Senayan. Persaingannya pun menjadi sangat ketat di 77 daerah pemilihan (dapil) dengan peluang tidak lebih 5% atau seorang caleg harus bersaing  dan mengalahkan 19 caleg lainnya.

Ketatnya persaingan dalam kampanye identik dengan besarnya dana yang harus dikeluarkan. Meskipun kemenangan dalam pemilu dipengaruhi banyak faktor (image/tokoh/artis, wajah, visi-misi, latar belakang), namun dana kampanye memiliki pengaruh yang besar. Dengan rendahnya kondisi pengetahuan, pemahaman dan pengenalan sebagian besar pemilih (masyarakat) terhadap tiap caleg dan partai, maka caleg-caleg berkualitas akan mengalami kesulitan untuk terpilih jika tidak memiliki strategi dan dana yang besar untuk berkampanye.

Hal ini diperburuk dengan jeleknya mekanisme pencalegan yang dilakukan oleh tiap partai. Umumnya partai lebih mengakomodasi caleg yang berduit, terkenal (artis) ketimpang berkualitas yang mampu mengerjakan tugas-tugas besar DPR.

Dengan sistem suara terbanyak pada pemilu 2009, maka seorang caleg tidak hanya bersaing dengan caleg dari partai lain, namun harus bersaing dengan rekan separtainya. Caleg yang berkualitas namun belum dikenali secara luas oleh masyarakat akan sulit terpilih jika tanpa publikasi (kampanye) yang efektif. Lagi-lagi faktor dana/uang menjadi komposisi yang besar.

Kondisi ini diperburuk dengan meningkatnya animo sebagian caleg yang hanya mengejar harta, tahta, nama, (dan mungkin wanita). Bayangkan saja jumlah caleg DPR RI naik hingga 45% dibanding periode sebelumnya.  Implikasinya adalah turunya peluang untuk terpilih. Disisi lain, masyarakat akan semakin binggung dengan begitu banyak orang yang menyampaikan bualan-bualan (janji) yang serupa dengan polesan yang berbeda. Ditambah dengan sejumlah perilaku buruk anggota dewan periode 2004-2009 seperti korupsi, skandal seks, pemerasan, bolos, berselancar ke luar negeri hingga sikap apatis dengan penderitaan masyarakat, maka banyaknya caleg akan membuat masyarakat semakin apatis alias golput.

Bertambahnya jumlah caleg yang seharusnya memberikan banyak pilihan alternatif bagi pemilih, justru akan membuat masyarakat semakin binggung memilih pemimpin/wakil rakyat yang tepat. Brosur, stiker, poster, spanduk hingga baliho yang besar hanya menampilkan foto besar disertai kalimat persuasi yang sama dilakukan caleg yang beruang besar.

Biaya Besar Menuju Senayan

Berbeda dengan tahun 2004, dimana untuk mendapatkan sebuah kursi seseorang lebih mengandalkan investasi ke partai (suara partai), kini dengan mekanisme suara terbanyak, para caleg harus mengeluarkan dana ekstra. Selain “dana pendaftaran” khusus ke partai, mereka harus menyiapkan sejumlah dana ekstra untuk mempopulerkan diri mereka masing-masing ke publik. Dari dialog-dialog di sejumlah media televisi (termasuk pengakuan), biaya rata-rata yang dikeluarkan seseorang untuk pemilu 2009 berkisar antara 200 juta hingga 1.5 miliar. Namun, dengan dana besar belum tentu akan terpilih. Jika saya ambil rata-rata biaya yang harus dikeluarkan caleg sebesar 400 juta, maka hanya untuk pencalegan DPR harus menghabiskan 4.4 triliun rupiah.. wow… Belum lagi dana untuk pencalegan DPRD I dan II, dana KPU, dana sumbangan ke partai dan masih banyak lagi. Sehingga angka 50 triliun sangat mungkin tercapai untuk 2009 ini. Dengan besarnya biaya yang dikeluarkan dan peluang kemenangan kecil, tidak tertutup kemungkinan mereka yang kalah dalam pemilu akan stress, depresi, tekanan jiwa hingga sakit jiwa. Bahkan apa yang terungkap diatas akhirnya terjadi pula saat ini.

Hal yang sangat fenomenal adalah calon bupati Ponorogo 2005-2010 yang masuk rumah sakit jiwa setelah gagal merebut kursi bupati padahal telah mengeluarkan miliaran rupiah. Namun, jika saja mereka terpilih, maka secara materi mereka akan memperoleh “keuntungan investasi” yang besar yakni 2.5 miliar dalam 5 tahun meskipun mereka sering bolos seperti para senior-senior mereka saat ini. Bahkan jika mereka rajin hadir dalam rapat, aktif dalam tim pengesahan Undang-Undang, hak angket, ketua pansus dan sejenisnya, maka seorang DPR mampu meraup Rp 3-4 miliar per 5 tahun. Angka yang cukup untuk mendapat gelar miliarder ditengah 35 juta rakyat Indonesia hidup dalam kemiskinan.

Dan pada tahun 2009 kemarin, dengan sistem suara terbanyak serta besarnya biaya investasi yang harus dikeluarkan oleh para caleg, saya berharap (seraya berdoa) mereka yang hanya mencari kursi DPR demi harta (investasi), kekuasaan, dan nama gagal terpilih meskipun telah menghabiskan ratusan juta rupiah. Dan saya berharap mereka yang menjadikan DPR sebagai profesi (bukan pelayanan) kapok seraya berkata “Aku kapok jadi Caleg DPR”.

Bisakah DPR bukan menjadi ajang Profesi?

Tidak bisa dipungkiri bahwa besarnya gaji dan tunjangan yang diperoleh oleh tiap anggota dewan (meskipun sering bolos) menjadi faktor penarik terbesar orang-orang mengadu nasib menjadi caleg DPR pada tahun 2009. DPR yang seyogianya menjadi institusi memperbaiki konstitusi, policy negeri ini, lebih hanya mencari kekuasaan belaka oleh partai dan kekayaan oleh para dewan. Dan faktanya masyarakat bingung memilih caleg mana saja yang berkualitas (sebagian besar omdol ketika berkampanye, namun nihil ketika duduk di kursi empuk)

Andai saja gaji dan tunjangan anggota dewan dipangkas hingga 75%, maka animo caleg busuk tidak akan sebesar saat ini. Toh selama 2 tahun ini, meskipun gaji dan tunjangan telah naik berkali-kali, tetap saja DPR merawat kemalasan, tabiat buruknya, tanpa menunjukkan prestasi progresif. Jadi, dengan gaji dan tunjangan kecil, hanya mereka yang bermoral baik serta berjiwa mengabdi dan melayani yang tepat mengisi Senayan. Dan saya masih berkeyakinan bahwa masih banyak orang yang berkualitas yang memiliki motivasi mengabdi untuk negeri ini tanpa harus dibayar (gaji) mahal. Karena, seyogianya DPR adalah lembaga untuk melayani bukan untuk dilayani.
Tepatkah jika saya mengatakan bahwa penghasilan dan gaji yang besar meningkatkan animo caleg tidak berkualitas??

KET : tulisan diatas tidak diadakan perubahan / pengeditan terlalu banyak, semua bentuk keredaksian masih sebagian banyak tetap asli tidak mengurangi dari visi dan misi tulisan yang disajikan oleh penulis asal / sumber berita.

dilansir ulang : Rohmat Syaifudin / warsindo.news

sumber asli : lintasberita.com

Sedekah dengan Uang Terakhir

oleh : motivasi.petamalang.com

Cerita ini dialami oleh guru agama saya. Saya ingat betul dia menceritakan kisah ini saat dia mengajar mata pelajaran agama Islam di kelas saya (SMA) sekitar tahun 1992. Cerita ini tidak pernah saya lupakan karena inilah cerita pertama yang saya dengar tentang balasan nyata sebuah sedekah.

Guru agama saya sewaktu masih kuliah, hidupnya sangat pas-pasan. Untuk makan harus dicukup-cukupkan agar dia bisa membayar biaya kuliah dan tempat kos. Maklum, orang tuanya di kampung adalah keluarga yang sederhana. Karena tekad yang kuatlah guru agama saya berani meneruskan kuliah agar dia bisa menjadi seorang sarjana agama Islam waktu itu. Modal utama dia hanyalah keyakinan bahwa Allah pasti akan menolong umatnya yang memang berniat ingin berjuang di jalan Islam. Memang benar, keyakinan itu terjawab. Banyak sekali rejeki dari mengajar ngaji panggilan yang dia dapatkan selama kuliah. Bayaran yang dia terima besar karena rata-rata yang memakai jasa dia adalah orang-orang kaya.

Suatu ketika, guru saya kehabisan uang. Di saku celananya hanya tersisa uang untuk sekali makan dan naik kendaraan ke salah satu muridnya. Hari itu adalah jadwal mengajar di salah satu anak pejabat dan biasanya tanggal itu waktunya orang tuanya ngasih amplop untuk jasa mengajar dia. Setibanya di rumah muridnya, dia hanya ditemui pembantu sang pejabat yang mengatakan semua keluarga ke luar kota karena ada sesuatu yang sangat penting.

Dengan lemas, guru saya pulang dengan jalan kaki. Karena jika dia naik kendaraan, berarti dia tidak makan nanti sorenya, karena uang yang ada di saku cuma cukup untuk sekali makan. Saat berjalan pulang, dia bertemu dengan nenek tua yang kelaparan. Dia kasihan. Dengan mengucap bismillah dia memberikan uang terakhirnya untuk nenek tersebut. Dia berkeyakinan, Allah pasti akan menolong dia saat dia lapar nanti, karena saat ini yang paling membutuhkan adalah nenek tua tersebut.

Rupanya harapan guru saya langsung dikabulkan Allah. Baru beberapa langkah, dia menemukan uang di pinggir jalan yang cukup untuk dia makan selama satu bulan. Beberapa hari kemudian, pak pejabat menitip kabar pada kawannya untuk segera ke rumah mengambil honor mengajar ngaji. Pak pejabat memberikan 3 kali lipat honor ngaji guru saya karena dia baru mendapatkan rejeki. Bukan hanya itu, pak pejabat itu juga memberi referensi untuk mengajar ngaji di tempat temannya yang lain.

Dengan berlinang air mata, guru saya berucap itulah balasan sedekah yang diberikan oleh Allah pada umatnya yang benar-benar ikhlas. Dia mengingatkan pada kami sekelas untuk senantiasa bersedekah, karena bisa membersihkan harta dan selalu dekat denganNya. Hikmah dari kejadian ini adalah, dengan keiklasan dan keyakinan akan pertolonganNya, serta doa yang tiada henti, pasti rejeki akan mengalir seperti air dalam kehidupan kita. Terakhir saya dengar sekitar tahun 1996, guru agama saya tersebut sedang mencari tanah untuk mendirikan pondok pesantren.

Semoga guru saya tetap sehat walafiat dan selalu diberi rahmat dan hidayahNya. Saya tidak tahu di mana sekarang dia mengajar, sebab saat saya kekas 3 SMA dia pindah mengajar ke kota lain.

Dimuat ulang oleh : warsindo.news

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: