Warta Sinar Indonesia Group – Mediatama Bintang Lima Group

Jendela


Pendidikan Instan Suram Kompetensi

Apakah ini sebuah kebetulan atau memang sebuah keberuntungan yang saya dapati di hari ini. Ada sebuah catatan penting yang perlu kita perhatikan bersama tentang kualitas pendidikan dan dunia kerja. Di sini kita akan mengupas bersama mengenal pendidikan yang berkualitas menuju dunia kerja berkompetensi. Tentunya dunia pendidikan dan penciptaan dunia kerja adalah tanggung jawab pemerintah dalam penyelenggaraannya yang bekerjasama dengan semua elemen, artinya pemerintah harus lebih mementingkan kualitas rakyatnya pada peningkatan kualitas ilmu pengetahuan yang dapat mendukung adanya peningkatan kualitas kompetensi.

Pendidikan merupakan kebutuhan sepanjang hayat. Setiap manusia membutuhkan pendidikan, sampai kapan dan dimanapun ia berada. Pendidikan sangat penting artinya, sebab tanpa pendidikan manusia akan sulit berkembang dan bahkan akan terbelakang. Dengan demikian pendidikan harus betul-betul diarahkan untuk menghasilkan manusia yang berkualitas dan mampu bersaing, di samping memiliki budi pekerti yang luhur dan moral yang baik.

Kalau kita amati bersama di era global saat ini hampir semua orang maunya serba cepat. Jadinya, cenderung mengabaikan proses, tapi ingin segera mendapat hasil. Apalagi di negara dengan etos kerja rendah seperti Indonesia. Akibatnya, budaya instan mulai masuk ke setiap kehidupan kita. Inilah dampak di zaman modern seperti sekarang ini segala sesuatu dapat kita dapatkan dengan mudah, praktis dan cepat.


Kemajuan teknologi telah memanjakan kita. Mau ngobrol dengan rekan atau saudara yang bermukim di belahan dunia lain, tinggal angkat telepon atau buka internet. Ingin belanja atau makan di restoran tapi malas keluar, tinggal pesan lewat telepon atau beli lewat situs. Mau transaksi —transfer uang, bayar listrik, kartu kredit, beli pulsa— tidak perlu susah-susah ke bank atau ATM. Semua bisa dilakukan lewat handphone. Bagi cewek-cewek yang ingin rambut panjang tidak perlu harus menunggu sampai berbulan-bulan. Cukup tunggu ½ jam saja dengan teknik hair extension, rambut bisa panjang sesuai keinginan. Kenapa hal ini bisa terjadi?. Semua ini dikarenakan kurangnya kualitas pendidikan yang berjalan di negeri ini. Dunia pendidikan di Indonesia tidak memperhatikan dan tidak membentuk sebuah kurikulum khusus yang lebih mengikat dan mengakar pada kualitas pendidikan dalam peningkatan kopetensi peserta didiknya. Hal ini masih banyak terjadi di setiap badan dan lembaga pendidikan di Indonesia dari tingkat dasar sampai dengan perguruan tinggi.

Catatan lain yang sangat disesalkan sampai sekarang di dunia pendidikan kita adalah Pendidikan Cenderung Dibisniskan. Dengan demikian akhirnya muncul dilema seperti pelanggaran etika pendidikan. Hal ini juga banyak terjadi di dunia pendidikan tingkat akademik dan perguruan tunggi di Indonesia pada umumnya. Inilah salah satu cacatan penting yang bisa kita jadikan sebuah koreksi diri pada dunia pendidikan kita.

Kemunduran dunia pendidikan dan penciptaan kopetensi untuk memasuki dunia kerja di Indonesia mendapatkan perhatian khusus dari salah satu pengamat pendidikan Indonesia, dia adalah Tata Sutabri S.Kom. MM.

Dari sebuah bloknya Tata Sutabri S.Kom. MM mengungkapkan bahwa munculnya berbagai cara yang mengarah pada pelanggaran etika akademik yang dilakukan perguruan tinggi kita untuk memenangkan persaingan, menunjukkan bahwa pendidikan kini cenderung dipakai sebagai ajang bisnis. Pola promosi yang memberikan kemudahan dan iming-iming hadiah merupakan suatu gambaran bahwa perguruan tinggi tersebut tidak ada inovasi dalam hal kualitas pendidikan.

Kecenderungan tersebut akan menghancurkan dunia pendidikan, karena akhirnya masyarakat bukan kuliah untuk meningkatkan kualitas diri, melainkan hanya mengejar gelar untuk prestise. Kondisi pendidikan tinggi saat ini cukup memprihatinkan. Ada PTS yang mengabaikan proses pendidikan. Bahkan ada PTS yang hanya menjadi mesin pencetak uang, bukan menghasilkan lulusan yang berkualitas. Hal Ini yang membuat persaingan menjadi semakin tidak sehat.

Produk lulusan perguruan tinggi yang proses pendidikannya asal-asalan dan bahkan akal-akalan, juga cenderung menghalalkan segala cara untuk merekrut calon mahasiswa sebanyak-banyaknya, dengan promosi yang terkadang menjebak dengan iming-iming hadiah yang menggiurkan. Apakah ini gambaran pendidikan berkualitas ?.

Bahkan ada beberapa PTS di Jakarta yang memainkan range nilai untuk meluluskan mahasiswanya, karena mereka takut, ketika selesai ujian akhir (UTS/UAS) banyak mahasiswanya yang tidak lulus alias IP/IPK nasakom. Sehingga mereka lulus dengan angka pas-pasan yang sebenarnya mahasiswa tersebut tidak lulus. Dalam hal ini semua pihak harus melakukan introspeksi untuk bisa memberi pelayanan pendidikan yang berkualitas. Kopertis, harus bersikap tegas menindak Perguruan Tinggi Swasta (PTS) yang melanggar dan mensosialisasikan aturan yang tak boleh dilanggar oleh PTS. Pengelola perguruan tinggi juga harus menghentikan semua langkah yang melanggar aturan. Kunci pengawasan itu ada secara bertahap di tangan Ketua Program Studi, Direktur, Dekan, Rektor dan Ketua Yayasan.

Dan dari semua kemunduran dan pelanggaran yang terjadi diatas tersebut maka jelaslah bahwa ketika para sarjana memadati berbagai arena bursa kerja untuk menawarkan ilmu dan ijazah mereka, iklan-iklan penerimaan mahasiswa baru juga nyaris memenuhi halaman-halaman surat kabar. Dua fenomena tersebut ironis. Promosi Perguruan Tinggi untuk menjaring calon mahasiswa sama “gencarnya” dengan peningkatan pengangguran lulusan. Di sisi lain, perlu diajukan pertanyaan, kualifikasi apakah sebenarnya yang disyaratkan oleh para pencari tenaga kerja lulusan sarjana Perguruan Tinggi ini ?

Tata Sutabri S.Kom. MM kembali mengungkapkan kedalam catatannya bahwa jawaban yang diperoleh para peneliti umumnya adalah campuran kualitas personal dan prestasi akademik. Tetapi pencari tenaga kerja tidak pernah mengonkretkan, misalnya, seberapa besar spesialisasi mereka mengharapkan suatu program studi di Perguruan Tinggi.

Kualifikasi seperti memiliki kemampuan numerik, problem-solving dan komunikatif sering merupakan prediksi para pengelola Perguruan Tinggi daripada pernyataan eksplisit para pencari tenaga kerja. Hasil survei menunjukkan perubahan keinginan para pencari tenaga kerja tersebut adalah dalam hal kualifikasi lulusan Perguruan Tinggi yang mereka syaratkan.

Tidak setiap persyaratan kualifikasi yang dimuat di iklan lowongan kerja sama penting nilainya bagi para pencari tenaga kerja. Dalam prakteknya, kualifikasi yang dinyatakan sebagai “paling dicari” oleh para pencari tenaga kerja juga tidak selalu menjadi kualifikasi yang “paling menentukan” diterima atau tidaknya seorang lulusan sarjana dalam suatu pekerjaan.

Yang menarik, tiga kualifikasi kategori kompetensi personal, yaitu kejujuran, tanggung jawab, dan inisiatif, menjadi kualifikasi yang paling penting, paling dicari, dan paling menentukan dalam proses rekrutmen. Kompetensi interpersonal, seperti mampu bekerja sama dan fleksibel, dipandang paling dicari dan paling menentukan. Namun, meskipun sering dicantumkan di dalam iklan lowongan kerja, indeks prestasi kumulatif (IPK) sebagai salah satu indikator keunggulan akademik tidak termasuk yang paling penting, paling dicari, ataupun paling menentukan.

Di sisi lain, reputasi institusi Pendidikan Tinggi yang antara lain diukur dengan status akreditasi program studi sama sekali tidak termasuk dalam daftar kualifikasi yang paling penting, paling dicari, ataupun paling menentukan proses rekrutmen lulusan sarjana oleh para pencari tenaga kerja.

Ada kecenderungan para pencari tenaga kerja “mengabaikan” bidang studi lulusan sarjana Dalam sebuah wawancara, seorang kepala HRD sebuah bank di Cirebon menegaskan, kesesuaian kualitas personal dengan sifat-sifat suatu bidang pekerjaan lebih menentukan diterima atau tidaknya seorang lulusan Perguruan Tinggi. Misalnya, posisi sebagai kasir bank menuntut kecepatan, kecekatan, dan ketepatan. Maka, lulusan sarnaja dengan kualitas ini punya peluang besar untuk diterima meskipun latar belakang bidang pendidikannya tidak sesuai. Kepala HRD itu mengatakan, “Saya pernah menerima Sarjana Pertanian dari Bogor sebagai kasir di bank kami dan menolak Sarjana Ekonomi manajemen dari Bandung yang IPK-nya sangat bagus.”

Kualifikasi-kualifikasi yang disyaratkan dunia kerja tersebut penting diperhatikan oleh pengelola Perguruan Tinggi untuk mengatasi tidak nyambung-nya antara Perguruan Tinggi dengan dunia kerja dan pengangguran lulusan. Jika pembenahan sistem seleksi mahasiswa baru dimaksudkan untuk menyaring mahasiswa sesuai kompetensi dasarnya, perhatian pada kualifikasi yang dituntut pasar kerja dimaksudkan sebagai patokan proses pengolahan kompetensi dasar tersebut. Untuk itu semua, kerja sama Perguruan Tinggi dan dunia kerja adalah perlu.

Demikian sebuah catatan yang bisa kita jadikan sebuah referensi dan refleksi dalam peningkatan dunia pendidikan dan penciptaan dunia kerja yang berkompetensi untuk masyarakat luas. Hal ini pula bisa menjadi catatan penting buat pemerintah pusat maupun daerah untuk bisa dijadikan sebuah perwujudan yang nyata. Karena pemerintah memiliki kewajiban dan tanggung jawabnya kepada segenap rakyat Indonesia dalam dunia pendidikan dan penciptaan lapangan pekerjaan sesuai amanah UUD 1945 dan Pancasila.

Sumber artikel :  ( forum studi mahasiswa indonesia – Tata Sutabri S.Kom. MM Pemerhati Dunia Pendidikan – dan dari berbagai sumber )

Indonesia Kaya Orang Pintar, Miskin Orang Cerdas!

12993942981666240997

Oleh : Syaifud Adidharta |

Indonesia yang sejak dulu di kenal sebagai negeri 1ooo pulau dengan berbagai keindahan dan keunikannya, dengan berbagai ragam seni budaya, suku dan etnis serta agama yang terdapat didalamnya membuat negeri ini banyak dikagumi bangsa lain. Bukan itu saja, Indonesia juga sebagai negara yang banyak menyimpan sumber alamnya yang dapat memenuhi kebutuhan rakyatnya.

Zaman telah berganti dengan seiringnya waktu, kini Indonesia berubah segalanya. Kemajuan berbagai bidang perlu kita akui, dari segi sosial, budaya, politik dan berbangsa juga mengalami perubahan yang mengglobal.

Sejak negeri ini berubah dari negeri Nusantara Raya dan kini menjadi Indonesia Raya perubahan bangsa ini sungguh menakjubkan. Ini bisa kita lihat dari berbagai perkembangan sejarahnya. Namun dari berbagai perubahan yang terjadi di Indonesia, masih saja banyak oknum-oknum yang lebih suka mementingkan diri sendiri, kelompok dan golongannya. Buktinya masih ada saja persoalan-persoalan yang makin berisiko dalam perkembang bangsa ini.

Contohnya, dalam segi keadilan pada Hukum, masih saja Hukum lebih berpihak kepada orang-orang yang memiliki kuasa, jabatan dan uang, sementara itu Hukum bagi orang kecil hanya sebagai Hukum Rimba dan Hukum Balas Dendam. Sungguh naif Dunia Hukum di Indonesia.

Contoh lain yang masih sangat dominan adalah tentang kekuasaan. Demokrasi Indonesia boleh dibilang sudah ada perubahan yang sangat baik. Namun dari perjalanan perubahan perkembangan sistem politik dari sistem politik detaktor, politik terpimpin dan sampai perubahan saat ini politik demokrasi terbuka, masih juga ada saja pihak-pihak perorangan, golongan dan kelompok yang senang dan gemar mempertahankan kekuasaan dan jabatannya dalam  status guwo.

Indonesia sungguh Indah memang, tapi keindahan itu tidak dibarengi dengan keindahan hati nurani orang-orang yang berkuasa. Sangat jelas betul Indonesia memang kaya dari kesemuanya, termasuk kaya banyak orang-orang yang pintar, tapi miskin orang-orang yang cerdas. Buktinya adalah, sangking banyaknya orang-orang pintar di Indonesia justru banyak kekacauan, karena pintar itu lebih mengutamakan kepuasan hawa nafsu yang lebih dominan merugikan banyak pihak, terutama rakyat kecil.

Contoh, hampir di setiap sudut jabatan, kekuasaan, karier dan harta setiap orang pintar di departemen apapun selalu pandai mengakali dan pandai mencari sela-sela untuk berkorupsi, bukan itu saja, ternyata banyak orang pintar pandai mengadu domba kerukunan yang sudah terjalin Indah di masyarakat demi kekuasaan, jabatan, bisnes dan harta.

Beda dengan orang cerdas. Cerdas disini lebih dominan memanfaatkan akal dan pikiran yang dibarengi dengan kekuatan hati nurani. Pada biasanya orang cerdas bila bertindak dan berbuat selalu berpikir dahulu sebelum berbuat sesuatu, dan lebih mengutamakan kebijaksanaannya. Selain itu orang cerdas selalu menggunakan logika dan konsep-konsep dalam berpikir, berbuat, bertindak dan bekerja. Inilah yang tidak dimiliki bangsa Indonesia, yaitu tidak memiliki banyak orang-orang cerdas untuk kemajuan, keadilan, kemakmuran, ketentraman dan kenyamanan.

Dengan demikian jelas sudah Indonesia sebenarnya masih tertinggal jauh perkembangannya dengan bangsa lain, dan Indonesia masih berjalan di tempat. Walau kenyataannya terlihat Indonesia sangat maju dalam perkembangannya saat ini, sesungguhnya hanya terlihat diluarnya saja.  Jadi sungguh jelas Indonesia bakal lebih gampang di goyah dan dihancurkan oleh pihak-pihak tidak bertanggung jawab. Pasalnya Indonesia gampang di ombang-ambingkan menuju kehancuran dari dalam dan dari luar. Kalau sudah demikian apa tindakan kita sebagai orang Indonesia. (kompasiana.com)

7 Cara Sukses dan Berhasil serta makmur dalam Keuangan

Mereka yang sukses secara Financial memiliki kesamaan karakteristik. Apabila anda ingin menjadi bagian dari mereka, pelajari dan milikilah karakteristik tersebut :

1. PERSISTENCE. Dalam usaha anda menuju kemakmuran, anda akan menghadapi berbagai rintangan. Hadapilah rintangan-rintangan itu dan bergeraklah maju. Kemakmuran hanya bisa diperoleh dengan menyingkirkan halangan Anda menuju kesuksesan Financial.

2. DARE TO INVEST. Mereka yang makmur memahami kebutuhan untuk mengambil resiko dalam pasar-saat baik maupun buruk-dalam rangka membuat uang mereka bekerja sama kerasnya dengan diri mereka.

3. INOVATE. Untuk menjadi makmur, Anda membutuhkan elemen Inovasi. Berinovasi memastikan Anda selalu dapat menghasilkan ide-ide baru untuk menciptakan kemakmuran. Lihatlah sekeliling Anda dan temukan kesempatan yang bisa membuat anda menjadi lebih sukses.

4. PASSIONATE. Orang yang makmur dapat menjadi kaya karena melakukan apa yang mereka sukai. Mereka sangat menikmatinya hingga melupakan kenyataan bahwa mereka sebenarnya sedang bekerja. Temukan hal yang anda cintai dan bangunlah usaha disitu.

5. GIVE IT BACK. Donasikanlah sebagian pendapatan investasiuntuk tujuan sosial yang anda percaya. Semakin banyak Anda memberi, Semakin banyak anda menerima. Jangan menyimpan kekayaan anda untuk diri sendiri, tetapi berbagilah dengan mereka di sekitar Anda.

6. CONTINUOUS LEARNING. Teruslah belajar untuk mengembangkan diri anda. Mereka yang makmur percaya bahwa aset yang paling berharga di dunia adalah pikiran anda. Pikiran andalah yang menentukan nasib Anda. Berinvestasilah ke dalam aset paling berharga Anda dengan membaca, mendengarkan radio atau ikut seminar.

7. HABITUAL SAVING. Penelitian menunjukkan bahwa orang-orang makmur memiliki cukup uang untuk dihabiskan tanpa harus berfikir panjang, tetapi sebagian besar dari mereka tidak melakukannya. Mereka yang stabil secara Financial berpandangan bahwa menabung adalah suatu kewajiban financial setiap orang dewasa.

sumber : jendeladunia//http://alfretprio.blogdetik.com/

Belajar dari Obama…

Siapa bakal menyangka Obama kecil yang dulu ada di Jakarta bakalan jadi Presiden Amerika, itulah perjalanan hidup ga ada seorangpun di dunia ini yang tau rancanganNya kecuali hanya Tuhan. Saya Pribadi menjadi sangat terinspirasi dan mendapat sebuah pelajaran, setelah memperhatikan pidato Presiden Barack Obama sangat menyentuh dan terkesan, sehingga bisa merebut banyak perhatian banyak orang didunia.

Pidato yang sangat fantastis mampu mendongkrak semangat persatuan dan kesatuan bangsa Indonesia dan juga menyatukan berbagai perbedaan suku, ras dan Agama. Tunggu apalagi kita sebagai Rakyat dan bangsa Indonesia sudah sepatutnya bersatu dan bangkit dari keterpurukan, berjuang bersama dan membangun bangsa yang bermartabat dan sebagai salah satu negara yang memiliki peran penting dalam percaturan dunia.

Khusunya bagi generasi Muda Indonesia mari bangkit, hadapi dunia dan era Globalisasi secara nyata dan siap menghadapinya dengan menciptakan sesuatu bagi bangsa Indonesia yang siap berperan dalam segala aspek bidang.

Tinggalkan dan tanggalkan segala kepentingan pribadi dan golongan tertentu, mari maju bersama tanpa melihat latar belakang Agama, Suku dan ras. seperti yang Barrack Obama katakan keragaman jangan jadi halangan namun keragaman seharusnya menjadikan kita maju dan terus berkembang.

Saya juga sebagai generasi muda, sangat terpukul dan ingin sekali memberontak untuk membantu menyumbangkan sesuatu bagi bangsa Indonesia, begitu banyak cobaan dan musibah yang sudah menimpa bangsa ini. masihkah kita berdiam diri dan hanya duduk berpangku tangan ????

Mari saudara-saudaraku sebagai generasi penerus dan pejuang Bangsa Indonesia kita maju bersama untuk kebangkitan bangsa Indonesia dan menjadi generasi yang membawa perubahan dengan semangat patriotisme. MERDEKA…

sumber : jendeladunia//http://alfretprio.blogdetik.com/

KUPU-KUPU

Seseorang menemukan kepompong seekor kupu-kupu. Dia duduk dan mengamati selama beberapa jam kupu-kupu dalam kepompong itu ketika dia berjuang memaksa dirinya melewati lubang kecil itu. Kemudian sang kupu-kupu berhenti membuat kemajuan. Kelihatannya dia telah berusaha semampunya dan dia tidak bisa lebih jauh lagi.

Akhirnya orang tersebut memutuskan untuk membantunya. Dia ambil sebuah gunting dan memotong sisa kekangan dari kepompong itu. Kupu-kupu tersebut keluar dengan mudahnya. Namun, dia mempunyai tubuh yang gembung dan kecil, serta sayap-sayap yang mengerut. Orang tersebut terus mengamatinya, karena dia berharap bahwa pada suatu saat, sayap itu akan mekar dan melebar sehingga mampu menopang tubuhnya. Sayang, semuanya tak pernah terjadi.

Kenyataannya, kupu-kupu itu menghabiskan sisa hidupnya merangkak di sekitarnya dengan tubuh gembung dan sayap-sayap mengerut. Dia tidak pernah bisa terbang. Yang tidak dimengerti dari kebaikan dan ketergesaan orang tersebut adalah bahwa kepompong yang menghambat dan perjuangan yang dibutuhkan kupu-kupu untuk melewati lubang kecil tersebut adalah cara Tuhan untuk memaksa cairan dari tubuh kupu-kupu itu ke dalam sayap-sayapnya. Sedemikian sehingga dia akan siap terbang begitu dia memperoleh kebebasan dari kepompong tersebut.

Kadang, perjuangan adalah yang kita perlukan dalam hidup kita. Jika Tuhan membiarkan kita hidup tanpa hambatan, itu mungkin malah melumpuhkan kita. Kita mungkin tidak sekuat yang semestinya kita mampu. Kita mungkin tidak pernah dapat terbang.

Saya memohon kekuatan, dan Tuhan memberi saya kesulitan-kesulitan untuk membuat saya kuat.

Saya memohon kebijakan, dan Tuhan memberi saya persoalan untuk diselesaikan.

Saya memohon kemakmuran, dan Tuhan memberi saya otak dan tenaga untuk bekerja.

Saya memohon keteguhan hati, dan Tuhan memberi saya bahaya untuk diatasi.

Saya memohon cinta, dan Tuhan memberi saya orang-orang bermasalah untuk ditolong.

Saya memohon kemurahan/kebaikan hati, dan Tuhan memberi saya kesempatan-kesempatan.

Saya tidak memperoleh yang saya inginkan, saya mendapatkan segala yang saya butuhkan.

Sumber : Majalah Paras’ No.20 edisi Tahun II Mei ’05


IDUL FITRI 1431 H DAN MARTABAT MANUSIA

Sekarang kita hidup pada masa yang jauh dari Nabi dan para sahabat, meski agama yang kita anut sama, yakni Islam. Pilar-pilarnya juga sama tetapi nilai pemaknaannya yang sangat berbeda.

Esensi keberagamaan untuk menjunjung tinggi martabat dan kemerdekaan manusia telah dipahami keliru dan melenceng dari yang seharusnya. Tragedi kemanusiaan entah karena kelaparan, karena tindak kekerasan dan kebrutalan, bahkan gara-gara berebut sembako dan uang sedekah menjadi pemandangan memilukan sekaligus memalukan.

Itu semua adalah bukti bahwa keberagamaan kita telah kehilangan esensinya. Ini juga yang menjadi sebab mengapa umat Islam di mana pun gagal menjadi umat terbaik, “khairu umat” yang bermartabat.

Dalam konteks kita ber-idul fitri yang berarti kembali menjadi orang-orang bersih dan suci lewat latihan beribadah satu bulan penuh, kita dituntut memiliki kasalehan ritual maupun kesalehan sosial.

Kesalehan ritual bisa dilakukan dengan pembudayaan shalat berjamaah, yang merupakan gerakan memperkokoh tali silaturrahim. Sedangkan kesalehan sosial bisa melalui jendela-jendela yang diajarkan Islam untuk mendidik umat mengembangkan kepedulian sosial lebih tinggi sehingga kesenjangan sosial ekonomi bisa diatasi.

Orang-orang di luar Islam yang mengagumi kebesaran kitab suci Alquran seringkali merasa aneh terhadap sikap umat Islam, mengapa di masjid sering hilang motor, telepon genggam, laptop, bahkan sandal. Padahal masjid itu tempat suci. Mengapa juga umat Islam malas, padahal banyak ayat mengecam siapa saja yang mengabaikan waktu.

Tolong menolong memang dianjurkan Islam sebagai wujud solidaritas, tetapi apa yang terjadi? Sedekah kita seringkali menjatuhkan martabat manusia bahkan mengorbankan kehormatan Muslim saat pembagian kupon sembako gratis tidak dikelola secara baik. Apalagi sembako yang dibagikan oleh penganut agama lain, sungguh menjadi pemandangan ironis betapa lemahnya kehormatan umat.

Ingat Nabi segera bertindak saat seorang pemuda datang meminta uluran tangan. Nabi tidak membiarkan ada umatnya menengadahkan tangan sebab itu bukan gambaran masyarakat berbudaya dan terhormat.

Satu satunya barang milik pemuda itu dilelang agar bisa membeli kapak jelek yang diperbaiki sendiri oleh tangan nabi. Kapak inilah yang akhirnya menyelamatkan sang pemuda dari kehinaan yakni menempatkan tangannya di bawah.

Nabi juga mengingatkan bahwa yang termasuk manusia termulia adalah orang-orang susah yang tidak mempertontonkan kesusahannya. Kemuliaan serupa tentu dimiliki orang berada yang tidak memamerkan keberadaannya, meskipun melalui jalan kebaikan seperti atas nama membagikan zakat atau yang sejenisnya.

Lihat pula bagaimana yang dilakukan Umar bin Khattab ketika malam-malam ia datangi sendiri secara diam-diam rumah para warga yang kesusahan. Ia kirimkan langsung apa yang menjadi haknya para kaum lemah.

Umar menjaga martabat mereka hingga tidak perlu menghinakan diri menjadi tangannya di bawah, karena hal ini akan merusak jati diri dan perasaan yang bersangkutan dan merusak pemandangan umum apalagi disorot televisi.


Aneh yang terjadi di masyarakat kita justru menjadi tontonan harian. Di mana letak kesuksesan pengendalian diri dalam hubungan kemanusiaan. Fenomena-fenomena ini rasanya telah menjadi bukti bahwa ada yang salah dalam pembelajaran agama selama ini. Sehingga terasa ada jarak antara gagasan ideal Islam dengan realitas kehidupan nyata.

Apa yang salah dari pola pembinaan dan perawatan sikap beragama kita? Seolah bangsa Indonesia tercinta ini makin terjauh dari petunjuk Alquran, meskipun di sana-sini keramaian tempat-tempat ibadah makin marak. Tetapi itu hanya seremonial belum yang esensial.

Sesuai hakikat idul fitri sebagai hari kembalinya kesadaran manusia pada fitrah kemanusiaannya, fitrah kemanusiaan kita adalah beriman bertauhid. Tauhid tidak hanya dipahami esanya Tuhan. Tauhid juga berarti satunya kehidupan dunia dan akhirat, satunya kehidupan manusia tanpa membedakan suku, ras agama maupun adat dan bahasa.

Rasullah bersabda, “Sayangilah siapa saja yang ada di bumi, pasti makhluk yang ada di langit akan menyayangimu.”

Ibadah puasa yang akan kita selesaikan nanti ditutup dengan kewajiban membayar zakat fitrah yang harus dibayar sebelum shalat Id. Ini mengandung sebuah tata krama dan etika bahwa kita harus mendahulukan hak kaum lemah, sebelum berdzikir kepada Allah.


Inilah yang diisyaratkan oleh firman Allah dalam surat al-Ala ayat 14-15, “Qad aflaha man tazakka wa dzakarasma rabbihi fa shalla.” Artinya : Sungguh berbahagia orang yang telah membersihkan diri dengan membayar zakat, lalu menyebut nama Tuhannya, dan kemudian mengerjakan shalat.

Ajaran tersebut sangat jelas menekankan pentingnya ketertiban hidup baik tertib ritual maupun tertib sosial. Melalui hidup tertib itu kenyamanan, keamanan dan kedamaian akan terwujud dengan mudah. Maka Id bagi orang berpuasa harus makin memantapkan kita meneladani sifat-sifat Allah dan nabi yang Agung.

Nabi tampil sebagai advokasi kaum lemah, tampil dengan kelembutan bukan hanya terhadap manusia tetapi juga terhadap binatang dan benda-benda mati. Oleh karena itu rangkaian Id, harus dilanjutkan dengan silaturrahim yaitu kesediaan memberi dan meminta maaf, sehingga tali persaudaraan yang renggang kembali menguat dan kokoh.

sumber : *) Ketua Program Pascasarjana Pemikiran Agama pada Universitas Islam Jakarta Prof Dr Aziz Fachrurrozi / (*.ant/dbs/rhs/detikpertama.com)

Bahaya Nasional itu Bernama Ledakan Gas Elpiji

Program konversi minyak tanah ke gas elpiji sudah lama berlangsung. Pemerintah dengan tenang dan lantang menyatakan bahwa program konversi berlangsung dengan sukses. Program ini diharapkan dapat menghemat pengeluaran anggaran negara yang tersedot oleh minyak tanah sehingga anggaran tersebut bisa dialihkan ke program lain seperti untuk pendidikan, kesehatan dan kesejahteraan masyarakat.

Banyak pertentangan dan penuh kontroversi dari masyarakat dengan adanya program konversi ini. Apakah benar alasan-alasan yang diungkapkan pemerintah? Apakah benar-benar bisa bermanfaat untuk masyarakat? Semuanya perlu waktu untuk membuktikan.
Dan sekarang, kontroversi itu semakin nyata setelah banyak kejadian ledakan gas elpiji 3 kg yang dibagikan secara gratis oleh pemerintah. Tidak hanya harta benda yang musnah tapi juga korban meninggal dan korban luka-luka.

Bahkan data dari Pertamina sendiri, hingga Juni 2010 sedikitnya 33 ledakan terjadi di berbagai daerah dengan 2 korban meninggal dunia.
Meskipun dibilang terlambat, pemerintah mengambil tindakan dengan menyediakan aksesoris untuk gas elpiji seperti selang karet, regulator dan katup dengan harga pabrik.

Pemerintah hampir selalu “menyalahkan” masyarakat (konsumen) pengguna gas elpiji. Padahal masyarakat menerima satu paket konversi berisi kompor, selang dan tabung elpiji 3 kg. Mestinya pemerintah melakukan pengawasan yang ketat terhadap peredaran dan kualitas dari paket tersebut terutama tabungnya. Di kalangan masyarakat banyak dijumpai tabung gas yang sepertinya tidak layak pakai. Tapi yang sering dipermasalahkan oleh pemerintah adalah aksesorisnya yang bukan SNI dan kecerobohan dari masyarakat.

Pemerintah seharusnya melakukan evaluasi yang menyeluruh terhadap program konversi ini tidak hanya mengandalkan laporan ABS (asal bapak senang). Mulai dari pengadaan, penyaluran, pengisian dan kualitas tabung gas sampai ke sosialisasi kepada masyarakat. Diharapkan program konversi ini tidak jadi ajang/lahan korupsi baru. Dan jangan sampai ledakan gas elpiji akan sering terjadi di seluruh bagian negara Indonesia sehingga bisa menjadi bahaya nasional.

sumber : indrosutanto.blogdetik.com


Inilah Tips Hindari Kebocoran Gas

Laporan wartawan KOMPAS.com Inggried Dwi Wedhaswary

Tabung melon” menjadi sorotan. Setelah tiga tahun didistribusikan, tabung elpiji 3 kg itu kini menimbulkan petaka. Apa tips aman agar tak menjadi korban kebocoran gas?

Direktur Logam Kementerian Perindustrian I Gusti Putu Suryawirawan mengatakan, peristiwa yang terjadi sesungguhnya bukanlah ledakan tabung. Dijelaskannya, tabung melon yang berbahan baja memiliki ketebalan antara 2-3 milimeter. Tabung akan meledak jika mendapatkan tekanan hingga 110 atmosfer.

“Sementara yang tabung 3 kg tekanannya hanya 7-8 atmosfer, kalau diisi penuh. Jadi tidak mungkin tabung meledak. Tabung sudah aman berlipat-lipat,” papar Putu saat mengisi diskusi Polemik “Nasib Konversi Elpiji” di Jakarta, Sabtu (31/7/2010).

Peristiwa-peristiwa yang terjadi, kata Putu, disebabkan adanya tabung-tabung gas yang dioplos. Tindakan ini menyebabkan adanya peluang kebocoran pada bagian katup tabung. Oleh karena itu, Putu mengimbau agar masyarakat memerhatikan serta memastikan segel dan katup tabung gas yang dibelinya dalam kondisi baik.

“Katup itu ada di bagian atas tabung, berhubungan dengan regulator dan selang. Regulator itu berfungsi menurunkan tekanan sampai 28 milibar. Untuk pastikan tidak bocor, kondisi katup harus baik. Kalau terima tabung tidak ada seal atau segel, itu menunjukkan bekas dioplos dan menyebabkan kebocoran. Jangan diterima jika segelnya rusak,” kata Putu.

Pengoplosan gas biasanya dilakukan dengan mencolok bagian katup sehingga menyebabkan pegas katup rusak. “Masyarakat harus paham, hanya menerima tabung yang bersegel. Jangan mau terima tabung tak bersegel,” ujarnya lagi.

Saat ini, menurut Putu, Pertamina juga tengah merancang segel yang tidak bisa dipalsukan. Masyarakat juga diingatkan untuk menyimpan segel dari tabung yang dibeli. Biasanya, di segel itu tercantum nama agen. Dengan demikian, jika terjadi sesuatu yang tidak benar, tabung tersebut bisa dikembalikan.

Tips lainnya bisa juga dilakukan dengan merendam tabung di dalam air untuk mengetahui apakah tabung mengalami kebocoran atau tidak. Putu juga mengingatkan, pemasangan regulator dan selang harus dipastikan sudah dilakukan dengan benar.

“Sering kali dilakukan asal-asalan. Ada yang pakai karet. Jangan sampai melakukan hal yang seperti itu. Regulator juga harus bersih, jangan terkontaminasi atau diletakkan di tempat kotor,” kata Putu.

sumber : kompasnews


Jangan Melupakan Sejarah tempoe Doeloe

Penulis : Supriyanto

Perkembangan Jaman membuat peradaban dan perubahan sosial yg cukup dratis. Tepat sekali masih berbau sejarah yaitu hari Pahlawan 10 November, aku ingin mengorek dan membahas tentang sejarah indonesia tempo dulu.

Aku sangat prihatin sekali dgn generasi muda indonesia skrg ini coba kita benahin dan kita koreksi tindakan tindakan yg tlah menyimpang dari norma2 yg berlaku di Negara kita.
Bahkan anak SLTP pun sudah menjadi bandar pengedar ganja, perekrutan gang motor, pemerkosaan anak sekolah, tawuran,dan bahkan anak sekolahpun sudah jual diri dalam artian jadi PSK apakah ada lembaga yg mengkoordinasikan pembentukan PSK salah itu bung ngga ada PSK yg ada cuma Wanita penjajan sek atau WTS aneh sekali kata kata yang dibuat seindah mungkin untuk mengurangi kesan jeleknya, harusnya kita topo seliro,mawas diri,dan bercermin diri siapa kita, kemampuan apa saja yg kita mampu,apakah ini baik atau buruk yah…Itulah yg menyebabkan generasi muda kita keblinger lepas kontrol dari Norma2 yg berlaku di Indonesia.

Apalagi di hari Pahlawan ini apakah kita masih mengingat nama nama pahlawan kita, ingat sih ingat tapi tidak diambil hikmah dibalik sejarahnya…Pernah aku mengalami kejadian ketika aku sdg melaksanakan operasi di jalan dan aku lihat ada 3 anak sekolah mengendarai sepeda motornya tanpa helm, kemudian aku tanya, “Dari mana De?”dari sekolah anu pak”jawabnya kenapa boncengan tiga di jam pelajaran?”bebas pak katanya, apakah kamu punya SIM?”belum pak saya masih sekolah pak”yah sudah Kartu Osis kamu “ngga ada pak gimana kamu mau bener de”wong mau berpergian harusnya dipersiapkan minimal kartu Osis walaupun ngga ada SIM yah buat pelanggaran kamu saya tes masing2 baca Pancasila”ternyata anak SLTP kelas 3 ngga lancar membaca Pancasila….Ketraluan banget…Apakah semacam ini generasi mudanya…Apakah gurunya yg ngga pernah ngajarin tapi kayanya tidak mungkin Pancasila wajib kita hafalkan karena mencakup falsafah dan Lambang Negara kita, masa kita harus menghafalkan Suara iklan di TV.


KATA HATI

Penulis : Rohmat Syaifudin

Kata hati sebenarnya tidak boleh ditinggalkan begitu saja oleh manusia dalam menjalani kehidupan. Tanpa kita menerapkan kata hati sudah pasti segala sesuatu pekerjaan dilakukan dengan kata hawa nafsu yang tidak bermanfaat. Hal ini yang sering terjadi didalam kehidupan manusia saat ini. Maka tidak diherankan kalau pada saat-saat ini banyak sekali kekacauwan dalam kehidupan, dikarenakan umat manusia melaksanakan kehidupannya dibarenngi dengan hawa nafsu yang berlebihan. Maka sesungguhnya KATA HATI masih sangat dibutuhkan.

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: