Warta Sinar Indonesia Group – Mediatama Bintang Lima Group

Pastilah setiap mahluk hidup yang ada dialam jagat raya ini akan mengalami dan bahkan akan mendapati satu piala begilir yang tidak dapat ditolak. Tumbuhan, Hewan dan bahkan Manusia, akan menerimanya tanpa diduga dan disangka, yaitu Kematian. Lalu apakah benar semua mahkluk hidup yang diciptakan Tuhan di dunia ini dalam petualangannya memiliki tujuan akhir adalah menuju kematian ?. Lalu setelah mengalami kematian apakan sudah selesai dalam urusannya kepada Tuhan ?.

Bagi umat manusia sendiri kematian adalah piala bergilir yang memang wajib diterimanya dengan kondisi suci dalam kehidupan sebelum kematian itu datang. Artinya bagi umat manusia harus memang sudah siap mempersiapkan bekalnya untuk menuju kematian yang akan diterimanya dengan memperbanyak amal dan ibadahnya yang baik selama hidupnya. Bekal yang dimaksud adalah, segara perbuatan dan gerak gerik manusia itu sendiri haruslah sejalan dengan apa yang sudah tersurat dari ajaran agama yang dianutnya, yaitu memperlakukan kehidupannya dengan melakukan kegiatan yang lebih kepada tujuan kebaikan di dunia untuk bekal di akherat kelak.

Kematian  oleh   para pemuka agama, khususnya kebanyakan para ulama didefinisikan   sebagai ketiadaan  hidup,” atau  “antonim  dari  hidup.” Kematian pertama dialami oleh manusia sebelum kelahirannya, atau saat sebelum  Allah menghembuskan ruh kehidupan kepadanya. Sedang kematian kedua, saat ia meninggalkan dunia  yang  fana  ini. Kehidupan  pertama  dialami  oleh  manusia pada saat manusia menarik dan menghembuskan nafas di dunia,  sedang  kehidupan kedua  saat  ia berada di alam barzakh, atau kelak ketika ia hidup kekal di hari akhirat.

Dalam kitab umat Islam, Al-Quran  berbicara  tentang  kematian  dalam  banyak  ayat, sementara pakar memperkirakan tidak kurang dari tiga ratusan ayat yang berbicara  tentang  berbagai  aspek  kematian  dan kehidupan sesudah kematian kedua.

Sementara itu secara umum dapat dikatakan bahwa pembicaraan tentang kematian bukan sesuatu yang  menyenangkan.  Namun  manusia bahkan  ingin hidup seribu tahun lagi. Ini, tentu saja bukan hanya ucapan Chairil Anwar, tetapi Al-Quran  pun  melukiskan keinginan  sekelompok  manusia  untuk hidup selama itu (baca surat Al-Baqarah [2]: 96). Iblis berhasil  merayu  Adam  dan Hawa   melalui   “pintu”   keinginan   untuk   hidup   kekal selama-lamanya.

“Maukah engkau kutunjukkan pohon kekekalan (hidup) dan kekuasaan yang tidak akan lapuk ?” (QS Thaha [20]: 120).

Didalam ayat-ayat Al-Quran dan hadis Nabi menunjukkan bahwa kematian bukanlah  ketiadaan  hidup  secara  mutlak, tetapi ia adalah ketiadaan hidup di dunia,  dalam  arti  bahwa  manusia  yang meninggal pada hakikatnya masih tetap hidup di alam lain dan dengan cara yang tidak dapat diketahui sepenuhnya.

“Janganlah kamu menduga bahwa orang-orang yang gugur di jalan Allah itu mati, tetapi mereka itu hidup di sisi Tuhannya dengan mendapat rezeki” (QS Ali-’Imran [3]: 169).

“Janganlah kamu mengatakan terhadap orang-orang yang meninggal di jalan Allah bahwa ‘mereka itu telah mati,’ sebenarnya mereka hidup, tetapi kamu tidak menyadarinya” (QS Al-Baqarah [2]: 154).

Berbuatlah kebajikan sebelum ajal menjemput !!!

Berbuatlah kebajikan sebelum ajal menjemput !!!

Imam Bukhari meriwayatkan melalui sahabat Nabi Al-Bara’  bin Azib,  bahwa  Rasulullah Saw bersabda ketika putra beliau, Ibrahim, meninggal dunia, “Sesungguhnya untuk dia  (Ibrahim) ada seseorang yang menyusukannya di surga.”

Sejarawan Ibnu Ishak dan lain-lain meriwayatkan bahwa ketika orang-orang  musyrik  yang  tewas  dalam  peperangan   Badar dikuburkan    dalam    satu    perigi    oleh    Nabi    dan sahabat-sahabatnya, beliau  “bertanya”  kepada  mereka  yang telah  tewas  itu,  “Wahai  penghuni perigi, wahai Utbah bin Rabi’ah, Syaibah bin Rabi’ah, Ummayah bin Khalaf; Wahai  Abu Jahl   bin   Hisyam,  (seterusnya  beliau  menyebutkan  nama orang-orang yang di dalam perigi itu satu per  satu).  Wahai penghuni  perigi!  Adakah  kamu  telah  menemukan  apa  yang dijanjikanTuhanmu itu benar-benar ada? Aku  telah  mendapati apa yang telah dijanjikan Tuhanku.”

“Rasul. Mengapa  Anda  berbicara  dengan  orang  yang  sudah tewas?”  Tanya  para  sahabat.  Rasul menjawab: “Ma antum hi asma’ mimma aqul minhum,  walakinnahum  la  yastathi’una  anyujibuni  (Kamu  sekalian tidak lebih mendengar dari mereka, tetapi mereka tidak dapat menjawabku).”

Demikian beberapa teks keagamaan yang dijadikan alasan untuk membuktikan bahwa kematian bukan kepunahan, tetapi kelahiran dan kehidupan baru.

Musthafa  Al-Kik  menulis  dalam   bukunya   Baina   Alamain bahwasanya  kematian  yang dialami oleh manusia dapat berupa kematian mendadak seperti serangan  jantung,  tabrakan,  dan sebagainya,  dan  dapat  juga merupakan kematian normal yang terjadi melalui proses  menua  secara  perlahan.  Yang  mati mendadak  maupun  yang normal, kesemuanya mengalami apa yang dinamai sakarat al-maut (sekarat)  yakni  semacam  hilangnya kesadaran yang diikuti oleh lepasnya ruh dan jasad.

Dalam  keadaan  mati  mendadak,  sakarat  al-maut  itu hanya terjadi beberapa saat singkat, yang mengalaminya akan merasa sangat  sakit  karena  kematian  yang dihadapinya ketika itu diibaratkan oleh Nabi Saw.- seperti “duri yang berada  dalam kapas,  dan  yang dicabut dengan keras.” Banyak ulama tafsir menunjuk ayat Wa nazi’at gharqa (Demi malaikat-malaikat yang mencabut  nyawa  dengan  keras) (QS  An-Nazi’at  [79]:  1), sebagai isyarat  kematian  mendadak.

Sedang  lanjutan  ayat surat tersebut yaitu Wan nasyithati nasytha (malaikat-malaikat yang mencabut ruh  dengan  lemah  lembut) sebagai   isyarat   kepada   kematian  yang  dialami  secara perlahan-lahan.

Kematian yang melalui proses lambat itu dan yang  dinyatakan oleh  ayat  di  atas  sebagai “dicabut dengan lemah lembut,” sama keadaannya dengan proses yang  dialami  seseorang  pada saat  kantuk  sampai  dengan  tidur. Surat Al-Zumar (39): 42 yang  dikutip   sebelum   ini   mendukung   pandangan   yang mempersamakan  mati  dengan tidur. Dalam hadis pun diajarkan bahwasanya tidur identik dengan kematian. Bukankah doa  yang diajarkan  Rasulullah  Saw.  untuk  dibaca  pada saat bangun tidur adalah : “Segala puji bagi Allah yang menghidupkan kami (membangunkan dari tidur) setelah mematikan kami (menidurkan). Dan kepada-Nya jua kebangkitan (kelak).”

Pakar tafsir Fakhruddin Ar-Razi, mengomentari surat Al-Zumar (39): 42 sebagai berikut: “Yang pasti adalah tidur dan mati merupakan dua hal dari jenis yang sama. Hanya saja kematian adalah putusnya hubungan secara sempurna, sedang tidur adalah putusnya hubungan tidak sempurna dilihat dari beberapa segi.”

Kalau  demikian.  mati  itu  sendiri  “lezat  dan   nikmat,” bukankah   tidur   itu   demikian?  Tetapi  tentu  saja  ada faktor-faktor ekstern yang dapat menjadikan  kematian  lebih lezat dari tidur atau menjadikannya amat mengerikan melebihi ngerinya   mimpi-mimpi   buruk   yang    dialami    manusia. Faktor-faktor  ekstern  tersebut muncul dan diakibatkan oleh amal manusia yang diperankannya dalam kehidupan dunia ini Nabi Muhammad Saw. dalam sebuah hadis yang diriwayatkan oleh Imam   Ahmad   menjelaskan   bahwa,  “Seorang  mukmin,  saat menjelang kematiannya, akan didatangi oleh  malaikat  sambil menyampaikan  dan  memperlihatkan  kepadanya  apa yang bakal dialaminya setelah kematian. Ketika itu tidak ada yang lebih disenanginya  kecuali  bertemu  dengan Tuhan (mati). Berbeda halnya  dengan  orang  kafir  yang   juga   diperlihatkannya kepadanya  apa  yang bakal dihadapinya, dan ketika itu tidak ada sesuatu yang lebih dibencinya  daripada  bertemu  dengan Tuhan.”

Dalam surat Fushshilat (41): 30 Allah berfirman,  “Sesungguhnya orang-orang yang mengatakan bahwa Tuhan kami ialah Allah, kemudian mereka meneguhkan pendirian mereka, maka malaikat akan turun kepada mereka (dengan mengatakan), ‘Janganlah kamu merasa takut dan jangan pula bersedih, serta bergembiralah dengan surga yang dijanjikan Allah kepada kamu.”

Turunnya  malaikat  tersebut  menurut  banyak  pakar  tafsir adalah  ketika  seseorang  yang sikapnya seperti digambarkan ayat di atas sedang menghadapi  kematian.  Ucapan  malaikat, “Janganlah  kamu  merasa  takut” adalah  untuk  menenangkan mereka menghadapi maut  dan  sesudah  maut,  sedang  “jangan bersedih”   adalah   untuk  menghilangkan  kesedihan  mereka menyangkut persoalan dunia yang ditinggalkan  seperti  anak, istri, harta, atau hutang.

Sebaliknya Al-Quran mengisyaratkan bahwa keadaan orang-orang kafir ketika menghadapi kematian sulit terlukiskan:

“Kalau sekuanya kamu dapat melihat malaikat-malaikat mencabut nyawa orang-orang yang kafir seraya memukul muka dan belakang mereka serta berkata, ‘Rasakanlah olehmu siksa neraka yang membakar’ (niscaya kamu akan merasa sangat ngeri)” (QS Al-Anfal [8]: 50)

“Alangkah dahsyatnya sekiranya kamu melihat di waktu orang-orang yang zalim berada dalam tekanan-tekanan sakaratul maut, sedang para malaikat memukul dengan tangannya sambil berkata, ‘Keluarkanlah nyawamu! Di hari ini, kamu dibalas dengan siksaan yang sangat menghinakan karena kamu selalu mengatakan terhadap Allah perkataan yang tidak benar, dan karena kamu selalu menyombongkan diri terhadap ayat-ayat-Nya” (QS Al-An’am [6]: 93).

Di  sisi  lain,  manusia  dapat  “menghibur”  dirinya  dalam menghadapi   kematian  dengan  jalan  selalu  mengingat  dan meyakini bahwa semua manusia pasti akan mati. Tidak  seorang pun  akan  luput  darinya,  karena  “kematian  adalah risiko hidup.” Bukankah Al-Quran menyatakan bahwa, “Setiap jiwa akan merasakan kematian?” (QS Ali ‘Imran [3]: 183)

“Kami tidak menganugerahkan hidup abadi untuk seorang manusiapun sebelum kamu. Apakah jika kamu meninggal dunia mereka akan kekal abadi?” (QS Al-Anbiya’ [21]: 34)

Keyakinan  akan  kehadiran  maut  bagi  setiap  jiwa   dapat membantu meringankan beban musibah kematian. Karena, seperti diketahui, “semakin banyak yang terlibat dalam  kegembiraan, semakin   besar   pengaruh   kegembiraan   itu   pada  jiwa; sebaliknya,  semakin  banyak  yang  tertimpa  atau  terlibat musibah, semakin ringan musibah itu dipikul.”

Demikian  Al-Quran  menggambarkan kematian yang akan dialami oleh manusia taat dan durhaka, dan demikian kitab suci menginformasikan   tentang  kematian  yang  dapat  mengantar seorang mukmin agar  tidak  merasa  khawatir  menghadapinya. Sementara, yang tidak beriman atau yang durhaka diajak untuk bersiap-siap menghadapi berbagai ancaman dan siksaan.

NAFAS TERAKHIR (Part 1) ASLAM MBC EDUCATION ISLAMIC RELEGIUS

NAFAS TERAKHIR (Part 2) ASLAM MBC EDUCATION ISLAMIC RELEGIUS

Semoga kita semua mendapatkan keridhaan Ilahi dan surga-Nya.

***

Artikel disari dari berbagai sumber terkait – Syaifud Adidharta. (kompasiana)

%d blogger menyukai ini: