Warta Sinar Indonesia Group – Mediatama Bintang Lima Group

Ilustrasi, sumber:http://img.dailymail.co.uk

Ilustrasi, sumber:http://img.dailymail.co.uk

Maraknya modus prostitusi lewat jejaringan sosial,  bukan hanya disebabkan oleh permasalahan kemiskinan dan tuntutan hidup.  Salah satu yang mendorong semakin maraknya bisnis prostitusi adalah pengaruh gaya hidup dan lingkungan, selain itu kemajuan teknologi menjadi salah satu penunjang semakin maraknya bisnis ini, karena pelanggan dengan mudah dapat mengakses dan mendapatkan pilihan sesuai dengan selera.

Bisnis yang kian hari semakin parah ini tidak hanya dilakukan oleh orang-orang dewasa, banyak pelajar yang masih di bawah umur pun sudah terjun ke dunia prostitusi. Biasanya ABG yang berkeliaran di mal-mal ini melakukan trnsaksi di tempat-tempat yang mewah atau  tongkrongan yang bonafide. Hal ini dilakukan bukan sekedar kebutuhan hidup, tetapi sudah menjadi gaya hidup bagi mereka.

Sebut saja B, ia menjalankan bisnis ini sudah hampir sekitar 5 tahun, demi bisnis ini ia merelakan keluarganya hancur, padahal dari sudut materi ia termasuk golongan menengah ke atas. Demi bisnis ini pun dia merelakan berpisah dengan istrinya yang sudah mapan bekerja di salah satu bank terbesar di negeri ini. Tidak hanya B, adik dan adik iparnya pun turun ke dunia prostitusi karena silau oleh kekayaan instan yang diperoleh.

Adik dan iparnya mereka menjadi satu kesatuan, artinya menjalankan bisnis bersama, dimana sang istri menjadi mami, sedangkan suami bertugas untuk merekrut gadis-gadis polos dari daerah, biasanya daerah- daerah yang menjadi target adalah daerah agak ke pelosok. Lain hal nya dengan B karena kekasih barunya merupakan wanita panggilan kelas atas, ia tidak perlu repot-repot untuk mendapatkan modal, cukup dikenalkan pada boss besar B bisa membawahi beberapa wanita yang akan menjadi karyawannya, dan ia pun sudah menjadi GM kelas atas.

Dengan fasilitas dari boss besar, ia bisa memiliki dua buah mobil kelas atas berharga 900 jutaan  keluaran terbaru, membayarnya dengan cara  memotong bagian dari para wanita pekerja  ini, atau yang sering disebut sebagai bagi hasil. Dengan bermodal wajah tampan B memang bisa menarik perhatian para wanita. Para wanita pekerja ini tidak merasa terganggu dengan pemotongan upah yang nyata-nyata menguntungkan untuk pihak boss. Boss yang hanya ongkang-ongkang kaki mendapatkan jatah yang hasilnya bisa lebih besar dari para wanita ini. Tetapi itu sudah merupakan perjanjian yang sudah diketahui oleh kedua belah pihak.

Untuk pemula  baru dari kampung, mereka yang belum berpengalaman di dunia prostitusi sesungguhnya menguntungkan bagi pihak boss, karena mereka bisa ditawarkan kepada lelaki hidung belang dengan bayaran yang tinggi karena dijual keperawanannya. Sudah bukan merupakan rahasia  jika para mucikari ini mempunyai relasi dari kalangan artis sampai pejabat sekalipun. Untuk para pengusaha atau pejabat wanita yang dipilih bukan sembarangan, biasanya mereka mempunyai kriteria tersendiri.

Bisnis prostitusi yang dahulu terselubung, kini karena kemajuan teknologi yang disalahgunakan, sudah berkembang di jejaringan sosial, mereka sudah tidak segan lagi menawarkan diri secara online. Baik dilakukan berdasarkan pertemanan terlebih dahulu, atau pun langsung kepada orang asing yang baru kenal.

Sungguh menjadi ironi ketika pemerintah gencar dengan undang-undang pornografi, tetapi pemerintah tidak bisa menekan lajunya perkembangan bisnis prostitusi ini. Entah karena  kemajuan teknologi atau kurangnya perhatian dari pemerintah. *.* (kompasiana/kompas.com/Aya Soraya)

%d blogger menyukai ini: