Warta Sinar Indonesia Group – Mediatama Bintang Lima Group

Sungguh sangat miris menyaksikan sebuah rekaman video berada di salah satu situs internet Youtube. Pada rekaman ini menunjukan sebuah pelecehan seni dan budaya bangsa Indonesia, juga salah satu dari kesenian  Bali yang sudah terkenal di mancanegara. Bukan itu saja, pada adegan rekaman ini juga sebuah pelecehan bagi kaum perempuan si pelakunya sendiri.


 

Sebuah tarian Bali yang begitu indah telah ternoda dengan adanya kolaborasi pornografi. Sungguh disayangkan juga tarian ini banyak disaksikan langsung oleh kaum tua dan anak-anak di bawah umur. Pada tarian ini sang penari begitu gema gemulainya menarikan tariannya dengan sekali-kali diselingi goyangan seroroh yang menampakkan kemaluannya. Pada rekaman tersebut berdurasi 1, 37 menit.

Sudahkah pemerintah mengetahui adanya pelecehan dari salah satu kesenian tari Bali di Indonesia ini ?. Sungguh sangat menyedihkan apabila memang pemerintah belum mengetahui, atau sudah mengetahui tetapi diam saja, dan tidak ada tindakan hukum kepada pelaku pelecehan seni budaya ini, yaitu kesenian tari khas Bali tersebut.

Sementara kita sendiri yang masih punya nurani akan kepedulian bangsa ini, kenapa hanya bisa diam membisu, dan kenapa kita tidak bereaksi sedikitpun untuk mencegahnya, justru menjadi sebuah tontonan yang dianggap lumrah. Padahal pada adegan ini sungguh telah merusak nilai-nilai akidah dan ahklak, selain itu justru juga merusak citra bangsa Indonesia, merusak keindahan seni budaya bangsa yang telah diwariskan oleh nenek moyang bangsa ini.

Haruskah hal ini terus terjadi?. Adakah pemerintah segera bertindak dan memberikan sanksi seberat-beratnya kepada pelaku pelecehan seni budaya bangsa Indonesia, khususnya kesenian dari Bali yang terkenal itu ?

Kita tinggal menunggu reaksi dari pemerintah.

Apakah hanya diam saja?.

Atau pura-pura tidak tau?.

Atau memang akan menindak lanjuti pelecehan seni budaya tarian dari Bali ini?.

Mau bukti rekaman Pelecehan Tarian Bali Berbau Pornografi :

 

Artikel : Syaifud Adidharta |

%d blogger menyukai ini: