Warta Sinar Indonesia Group – Mediatama Bintang Lima Group

Siapa yang tidak mengenal Nurdin Halid. Dia adalah seorang tokoh di negeri ini yang memiliki kreadifitas sangat kontroversial di mata publik negeri ini.  Berbagai kasus kriminalitas banyak disandangnya sebelum dirinya menjabat berbagai ketua umum di lembaga dan organisasi yang ada di Indonesia.

Pada 16 Juli 2004, dia ditahan sebagai tersangka dalam kasus penyelundupan gula impor ilegal. Ia kemudian juga ditahan atas dugaan korupsi dalam distribusi minyak goreng. Hampir setahun kemudian pada tanggal 16 Juni 2005, dia dinyatakan tidak bersalah atas tuduhan tersebut oleh Pengadilan Negeri Jakarta Selatan dan dibebaskan.

Putusan ini lalu dibatalkan Mahkamah Agung pada 13 September 2007 yang memvonis Nurdin dua tahun penjara. Ia kemudian dituntut dalam kasus yang gula impor pada September 2005, namun dakwaan terhadapnya ditolak majelis hakim pada 15 Desember 2005 karena berita acara pemeriksaan (BAP) perkaranya cacat hukum. Selain kasus ini, ia juga terlibat kasus pelanggaran kepabeanan impor beras dari Vietnam dan divonis penjara dua tahun 6 bulan oleh Pengadilan Negeri Jakarta Utara pada 9 Agustus 2005. Tanggal 17 Agustus 2006 ia dibebaskan setelah mendapatkan remisi dari pemerintah bertepatan dengan Hari Kemerdekaan Indonesia.

Nurdin terpilih sebagai Ketua PSSI pada tahun 2003. Ia dikenal sebagai ketua PSSI yang kontroversial. Dia menjalankan organisasi dari balik terali besi penjara, mengumumkan ide menaturalisasikan pemain asing, menambah jumlah peserta Liga Indonesia tiap tahun sehingga tidak ada klub yang terdegradasi, menentang penghentian pengucuran dana APBD untuk klub, dan mengurangi sanksi Persebaya yang sebelumnya terlibat kerusuhan pertandingan secara besar-besaran (dari larangan main di kandang selama dua tahun menjadi hanya larangan sebanyak 3 kali pertandingan kandang).

 

Kemudian pada  13 Agustus 2007, Ia kembali divonis dua tahun penjara akibat tindak pidana korupsi dalam pengadaan minyak goreng. Berdasarkan standar statuta FIFA, seorang pelaku kriminal tidak boleh menjabat sebagai ketua umum sebuah asosiasi sepak bola nasional.

Karena alasan tersebut, Nurdin didesak untuk mundur dari berbagai pihak  Jusuf Kalla (Wakil Presiden RI saat itu), Ketua KONI, dan bahkan FIFA menekan Nurdin untuk mundur. FIFA bahkan mengancam untuk menjatuhkan sanksi kepada PSSI jika tidak diselenggarakan pemilihan ulang ketua umum.

Akan tetapi Nurdin bersikeras untuk tidak mundur dari jabatannya sebagai ketua PSSI, dan tetap menjalankan kepemimpinan PSSI dari balik jeruji penjara. Agar tidak melanggar statuta PSSI, statuta mengenai ketua umum yang sebelumnya berbunyi “harus tidak pernah terlibat dalam kasus kriminal” (“They…, must not have been previously found guilty of a criminal offense….”) diubah dengan menghapuskan kata “pernah” ( “have been previously”) sehingga artinya menjadi “harus tidak sedang dinyatakan bersalah atas suatu tindakan kriminal” (“… must not found guilty of a criminal offense…”). Setelah masa tahanannya selesai, Nurdin kembali menjabat sebagai ketua PSSI.

Sifat dan watak buruknya Nurdin Halid sungguh mencerminkan watak tokoh antagonis dalam sebuah film apapun jenisnya. Keras kepala, tidak bisa mengendalikan diri, emosional, dan merasa dirinya paling kuat, hebat serta paling terkenal di negeri ini. Memang kita akui Nurdin Halid sangat tenar, tetapi ketenarannya tidak diimbangi dengan pola pikirnya yang intelektual maupun akademis. Sungguh memalukan sifat dan watak tokoh yang satu ini bagi kita semua. Kediktaktoran dan tidak moderatnya dalam berpikir membuat banyak orang tidak menyukai, terutama pada kebijakan-kebijakannya di setiap lembaga atau organisasi yang di pimpinannya.

Tentunya kita semua masih ingat dengan terselenggaranya piala AFF Suzuki 2010 tahun lalu, Nurdin Halid mengklaim sukses tim nasional Indonesia pada Piala Suzuki AFF 2010 adalah karya Partai Golkar.  Hal ini bertentangan dengan Statuta FIFA yang melarang keras politisasi sepak bola. Pernyataan tersebut dikecam oleh beberapa pihak, termasuk Sekretaris PSSI dan Wakil Ketua DPR RI Pramono Anung.

 

 

Sepakterjangnya Di Organisasi PSSI Nasional :

Pada tanggal 1 November 2007 silam dikala itu Menteri Negara Pemuda dan Olah Raga (Menegpora) Adhyaksa Dault meminta Komite Olahraga Nasional Indonesia (KONI) Pusat untuk segera meminta klarifikasi soal status Ketua Umum PSSI, Nurdin Halid kepada federasi sepakbola dunia (FIFA).

Hal itu diungkapkan Adhyaksa dalam acara Stadium General di Universitas Negeri Yogyakarta (UNY) , Kamis (1 November2007) siang. Status Nurdin yang dipidana karena tersangkut masalah hukum semestinya segera mendapat kejelasan terkait posisinya sebagai Ketua Umum PSSI.

FIFA sendiri seperti diketahui telah mengirim surat kepada PSSI agar Nurdin segera diganti. Keputusan FIFA tersebut merupakan hasil sidang Komite Asosiasi FIFA di Zurich, Swiss, Selasa lalu (29 Oktober 2007) lalu.

Agar tidak terjadi kesalahpahaman serta untuk menindaklanjuti surat FIFA kepada PSSI itu, Menegpora meminta KONI mendesak pengurus PSSI untuk meminta fatwa yang lebih jelas kepada FIFA.

“Sebab, ada aturan FIFA dimana pemerintah dilarang melakukan intervensi kepada organisasi sepak bola. Oleh karena itu, kami tidak campur tangan soal status Nurdin Halid,” katanya.

Dikatakan Menegpora, jika pemerintah langsung mengintervensi PSSI justru akan berdampak buruk pada dunia sepakbola Indonesia. Bahkan menurutnya, FIFA bisa saja akan melarang tim Indonesia mengikuti setiap kompetisi internasional seperti yang pernah diberlakukan kepada Iran dan Oman.

“Saya juga sudah diperingatkan langsung oleh Wakil Presiden Iran Ali Abati soal itu, agar berhati-hati. Jangan sampai kita bernasib seperti Iran atau Oman,” kata Menegpora.

Sebagai induk organisasi olah raga nasional, lanjut Menegpora, KONI harus lebih pro aktif menghadapi masalah di tubuh kepengurusan PSSI, dan harus segera meminta klarifikasi kepada PSSI atau meminta fatwa langsung kepada FIFA tentang kepengurusan Nurdin Halid.

“Apalagi kita ketahui, ada perbedaan tafsir atas surat yang dilayangkan FIFA, dimana PSSI menilai bukan keharusan untuk mengganti Nurdin,” kata Menpora.

Hal itulah yang menurut Menegpora harus diklarifikasi agar tidak jatuh sanksi dari FIFA atas peran sepakbola nasional di kancah internasional.

“Apa yang dimaksud FIFA dalam suratnya itulah yang harus diklarifikasi. Yang lebih penting lagi jangan sampai masalah ini menggangu prestasi sepak bola kita. Apalagi, kita tengah menyiapkan untuk meningkatkan prestasi di ajang SEA Games, termasuk persiapan program untuk tim di bawah 17 tahun,” imbuh Menegpora. (okezone.com)

—————————


Sebelumnya pada tanggal 19 September 2007, Praktisi olahraga di Aceh mendesak agar terpidana Nurdin Halid harus berjiwa besar mengundurkan diri sebagai Ketua Umum PSSI, karena yang bersangkutan telah divonis penjara selama dua tahun oleh putusan kasasi Mahkamah Agung terkait kasus distribusi minyak goreng ilegal.

“Saya kira, Nurdin Halid sebaiknya dengan jiwa besar menyatakan mengundurkan diri, demi kemajuan sepak bola di tanah air,” kata Drs. Nuzuli, MS, Sekretaris KONI Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam di Banda Aceh, Rabu (19 September 2007), menanggapi masalah Ketua Umum PSSI tersebut.

Lebih lanjut ia menjelaskan agar roda organisasi bisa berjalan lancar dan baik, maka harus ada Ketua Umum yang merupakan orang yang mengambil kebijakan dan keputusan.

“Jangankan dua tahun, satu hari saja kalau dalam organisasi tidak ada ketua umum, maka organisasi itu akan pincang dan tidak sempurna, karena akan terjadi hambatan dalam menentukan kebijakan,” katanya.

Jadi, menurutnya, wajar kalau di daerah-daerah ada yang berdoa di lapangan agar Nurdin Halid segera diganti. “Itu semua demi kemajuan sepakbola di tanah air,” katanya.

Oleh karena itu, menurut Nuzuli, untuk membenahi organisasi sebesar PSSI itu harus segera dilakukan musyawarah nasional luar biasa (Munaslub) dan itu harus diawali dari Nurdin Halid dengan cara mengundurkan diri.

“Kalau sepak bola Indonesia ingin maju, maka segera Munaslub, karena organisasi yang jelek tidak mungkin menghasilkan atlet yang baik,” kata Nuzuli, yang juga dosen olahraga di FKIP Universitas Syiah Kuala (Unsyiah) Banda Aceh itu.

Untuk itu, ia mendorong pelaku olahraga, khususnya pencinta sepak bola yang memiliki hak suara agar mendesak dilaksanakannya Munaslub PSSI.

“Dengan cara Munaslub, organisasi PSSI akan berjalan dengan baik, karena keberadaan Ketua Umum dipilih dan berbeda dengan pengurus lainnya yang cukup ditunjuk,” kata Nuzuli. (kapanlagi.com)

—————————


Lalu pada tanggal 24 Maret 2008, Kelompok suporter sepak bola di Indonesia mendesak agar Nurdin Halid segera dicopot dari jabatannya sebagai Ketua Umum PSSI. Tak hanya Nurdin, suporter juga mendesak kepengurusan PSSI saat ini secepatnya dirombak total.

Desakan itu disampaikan kelompok suporter yang terdiri dari Aremania (suporter Arema), Jakmania (Persija), Benteng Viola (Persita), Pasoepati (Persis Solo), dan Slemania (PSS Sleman), dalam unjuk rasa di sejumlah tempat di Jakarta, Selasa (25/3). Mereka di antaranya melakukan aksi di kawasan Monumen Nasional (Monas), Kantor Kementerian Negara Pemuda dan Olahraga, serta terakhir di kantor pusat PSSI, Stadion Utama Gelora Bung Karno, Senayan.

Sekitar 100 pengunjuk rasa meneriakkan yel-yel yang isinya mengecam Nurdin Halid dan para kroninya, serta pengurus PSSI lainnya. Para suporter yang tergabung dalam Kelompok Pencinta Bola Indonesia itu menyampaikan sejumlah tuntutan yang intinya adalah revolusi PSSI untuk menyelamatkan persepakbolaan Indonesia.

Tuntutan yang paling utama adalah perombakan total kepengurusan PSSI, terutama segera dicopotnya Nurdin Halid yang kini tengah mendekam di penjara sebagai terpidana kasus korupsi atau yang bersangkutan segera mundur. Nurdin Halid yang terpilih pada pemilihan di Makassar April 2007 tidak diakui oleh badan sepak bola dunia, FIFA, ataupun konfederasi sepak bola Asia, AFC. Kedua badan ini mendesak PSSI segera melakukan pemilihan ulang ketua umum dan pengurus lainnya, paling lambat 4 Agustus mendatang.

”Kami ingin agar Nurdin Halid yang tengah di Salemba segera diganti sebelum Liga Indonesia dimulai dan sebelum Indonesia terkena sanksi FIFA,” kata Muhammad Faisal Abdullah, koordinator aksi. ”Karut-marut sepak bola Indonesia berawal dari para pengurus PSSI yang tak beres. Pelaksana di bawah menjadi tidak becus karena melihat orang di atasnya tidak beres.”

Saat berunjuk rasa di Kantor Mennegpora, mereka ditemui oleh Staf Ahli Mennegpora, Djohar Arifin Husin, yang menurut Faisal, mendukung gerakan para suporter. Di PSSI, para pengunjuk rasa ditemui Sekretaris Jenderal PSSI Nugraha Besoes.

Besoes menyatakan, PSSI kini tengah menyelesaikan revisi statuta atau pedoman dasar. Setelah pedoman dasar selesai diratifikasi (AFC memberi batas akhir 4 Mei bagi PSSI untuk menyelesaikan revisi statuta tersebut), baru dilakukan penggantian anggota Komite Eksekutif, termasuk Nurdin Halid, dan juga para pengurus lainnya.

”Draf revisi pedoman dasar sudah selesai dikerjakan, tinggal diserahkan kepada AFC. Seharusnya sudah bisa diserahkan, namun karena mereka sedang sibuk, AFC meminta agar pertemuan dengan PSSI ditunda,” tambah Besoes. (kompas.com)

—————————


Setelah itu di tanggal 8 Mei 2008,

Pengurus daerah (Pengda) PSSI DKI Jakarta mendukung hasil Rapat Paripurna Daerah (Raparda) III Pengda PSSI Jawa Timur (Jatim)  yang digelar beberapa waktu lalu. Dimana, hasil Raparda itu mendesak digelarnya Musyawarah Nasional Luar Biasa (Munaslub) PSSI, guna mengganti Ketua Umum Nurdin Halid yang sedang dipenjara.

Tidak hanya itu, mereka pun setuju dengan pengurangan jumlah pemilik suara di PSSI, dari 600 suara menjadi hanya 118 suara saja. “Saya mendukung usul Jatim yang menginginkan pengurangan jumlah suara. Jika DKI menggelar Raparda, pasti semua anggota akan setuju pengurangan jumlah suara itu,” kata Ferry Paulus, Ketua Pengda PSSI DKI Jakarta, ketika dihubungi melalui telepon selulernya, Kamis (8 Mei 2008).

Ferry juga setuju dengan desakkan digantinya Nurdin Halid. Namun, Ferry buru-buru menambahkan, jika pergantian itu harus dilakukan sesuai dengan prosedur yang berlaku. “Selain itu, saya pun tidak  setuju jika PSSI dijadikan sebagai kendaraan politik. Maka dari itu, siapa pun ketua umumnya nanti, dia harus orang yang berprestasi,” tambah Ferry.

Dimata Ferry, Nurdin Halid merupakan figur berprestasi. Katanya, di bawah kepemimpinan Nurdin Halid, sepakbola Indonesia mengalami kemajuan yang signifikan. “Contohnya, dulu kita hanya punya sedikit wasit, sekarang kita punya banyak. Dulu Primavera gagal, sekarang coba diperbaiki dengan mengirim pemain-pemain muda ke Uruguay,” kata Ferry.

Ferry membantah ketika dikatakan, apa yang telah dikerjakan Nurdin Halid itu bersifat semu. Dia justru mengatakan, bahwa Nurdin Halid telah menempatkan pondasi pembangunan sepak bola yang benar. Ferry juga memuji Nurdin Halid sebagai orang yang mau all out di dunia sepakbola.

Sedangkan mengenai desakkan segera digantinya Nurdin Halid, kata Ferry, harus didahului dengan pengesahan Statuta yang baru. “Kalau Statuta sudah beres, baru kita bicara yang lain. Lagipula, Nurdin bukan tipe orang yang ngotot ingin mempertahankan kekuasaannya. Setahu saya, dia itu tidak pernah mempermasalhakan jika harus diganti, asalkan sesuai prosedur,” ucapnya.

Sayangnya, apa yang diucapkan Ferry itu bertentangan dengan fakta di lapangan, karena Nurdin Halid sangat ngotot mempertahankan kekuasaannya. Salah satu buktinya adalah dengan menawar pasal kriminal yang harus ada di dalam Statuta PSSI. Seperti diketahui, berdasarkan pasal kriminal, sesuai Standar Statuta FIFA, pribadi seperti Nurdin Halid tidak bisa menjadi pengurus asosiasi sepakbola.

Tapi, Nurdin bersama kroni-kroninya berusaha menawar   dengan meminta agar pasal itu hanya bagi mereka yang masuk ‘bui’ diatas lima tahun. Dengan begitu, maka Nurdin bisa kembali memimpin PSSI. Sebab, dia hanya ‘dikrangkeng’ selama dua tahun. (goal.com)

—————————


Masih diseputar tahun 2007, Ketua Umum PSSI Nurdin Halid menolak untuk mundur dari jabatannya meskipun organisasi sepak bola dunia FIFA telah menegaskan agar badan sepak bola Indonesia itu segera melakukan pemilihan ulang karena FIFA tidak mengakui hasil pemilihan di Makassar pada April lalu.

Bahkan Nurdin menegaskan tidak akan mundur meski Wakil Presiden Jusuf Kalla telah memintanya untuk mematuhi keputusan FIFA.

“Saya hanya mematuhi keputusan organisasi. Wapres bahkan Presiden tidak bisa melakukan intervensi kepada PSSI,” tegas Nurdin kepada ANTARA News, Jumat, menanggapi pernyataan yang disampaikan Wapres kepada wartawan usai shalat Jumat.

“Sampai saat ini saya belum menerima dan membaca surat dari FIFA yang memerintahkan saya untuk mundur,” sambungnya.

“Apa yang dikeluarkan FIFA itu adalah rekomendasi dari Komite Asosiasi, bukan Komite Eksekutif FIFA. Komite Eksekutif, yang merupakan badan tertinggi di FIFA, tidak mengeluarkan keputusan mengenai Indonesia,” tegasnya.

Ia menegaskan hanya akan mematuhi keputusan Komite Eksekutif FIFA.

Nurdin sepertinya belum membaca surat yang dilayangkan FIFA menjawab pertanyaan yang diajukan oleh Ketua KONI dan KOI Rita Subowo mengenai duduk persoalan yang sebenarnya dari masalah yang merundung PSSI.

Dalam surat jawaban yang ditandatangani Delegate President NOC FIFA Jerome Champagne, FIFA menegaskan kembali bahwa Komite Eksekutif telah mengonfirmasi keputusan Komite Asosiasi tersebut dan mengistruksikan agar PSSI melakukan pemilihan ulang di bawah pengawasan FIFA dan Konfederasi Sepak Bola Asia (AFC).

Pemilihan ulang tersebut harus dilakukan oleh PSSI karena, menurut FIFA, pelaksanaannya bertentangan dengan Pedoman Dasar PSSI sendiri.

Selain itu, FIFA juga menegaskan seseorang yang menjalani hukuman dan saat ini tengah berada di penjara tidak diperkenankan untuk ikut pemilihan.

“Izinkan saya untuk mengatakan kepada Anda (Rita Subowo) bahwa situasi di PSSI sangat serius karena telah berulang menolak untuk mematuhi keputusan FIFA dan Anda bisa mengamati situasi di Asosiasi Sepak Bola Kuwait yang saat ini dibekukan untuk alasan yang sama,” jelas Champagne dalam suratnya.

FIFA membekukan Asosiasi Sepak Bola Kuwait karena Otoritas Publik Kuwait unuk Pemuda dan Olahraga terus mengintervensi asosiasi. Mereka juga tidak mengindahkan keputusan FIFA yang meminta agar melakukan pemilihan ulang setelah pemilihan yang dilakukan pada 9 Oktober tidak diakui karena melanggar keputusan Komite Eksekutif FIFA yang diambil pada Mei 2007.

Akan sangat merugikan bagi sepak bola Indonesia apabila akhirnya FIFA membekukan PSSI, yang berarti tim sepak bola Indonesia dilarang berlaga dalam kompetisi resmi internasional.

Padahal saat ini tim nasional sepak bola Indonesia tengah berjuang untuk berusaha mencapai hasil maksimal pada ajang Kejuaraan U-16 Asia, Kejuaraan U-19 Asia, SEA Games 2007, dan Pra Piala Dunia 2010. (antara.news)

—————————


Lagi desakan memburu Nurdin Halid, kali ini datangnya dari Ketua Umum Komite Olahraga Nasional Indonesia Rita Subowo meminta PSSI segera memilih ketua baru menggantikan Ketua PSSI Nurdin Halid yang saat ini menjalani hukuman di penjara.

Rita mengatakan keputusan komite eksekutif FIFA harus dipatuhi PSSI. Jika tidak, lanjut Rita, persepakbolaan Indonesia akan rugi. “Maka PSSI harus memilih ketua baru,” kata Rita Subowo, Jumat(2 November 2007), sebelum mengikuti Pekan Olahraga Mahasiswa X di Banjarmasin.

Dia mengatakan akan segera bertemu dengan pengurus PSSI membicarakan surat keputusan FIFA tersebut. “Nanti saya bicara setelah bertemu PSSI,” ujarnya.

Ketua Umum PSSI Nurdin Halid terpidana kasus korupsi dana minyak goreng. Walaupun masuk bui, Nurdin tetap bertahan sebagai Ketua PSSI. (tempo.com)

—————————


Desakan keras datang dari FIFA terhadap PSSI di kepemimpinan Nurdin Halid. Komite eksekutif Federasi Sepakbola Internasional (FIFA) dan Konfederasi Sepakbola Asia (AFC) meminta Persatuan Sepakbola Seluruh Indonesia (PSSI) untuk segera mengadakan pemilihan ketua umum ulang untuk mencari pengganti ketua umum Nurdin Halid yang kini mendekan di rumah tahanan Salemba. Pemilihan pun akan dilakukan di bawah pengawasa FIFA Dan AFC.

Hal ini dinyatakan oleh Delegasi Presiden FIFA, Jerome Champagne, dalam surat elektronik yang diterima Ketua KONI-KOI, Rita Subowo, Kamis (1November 2007). Dalam surat tersebut, Champagne menyatakan selama ini PSSI masih belum melaksanakan pemilihan ulang seperti yang sudah diperintahkan. Hal ini jelas melanggar Anggaran Dasar FIFA pasal 13.1 (a) dan untuk itu Indonesia dapat dijatuhi sanksi seperti yang tercantum dalam pasal 14.

“Situasi yang sangat serius sedang terjadi dalam tubuh PSSI dan harus segera diselesaikan. Jika tidak FIFA dapat menjatuhi sanksi seperti Kuwait akibat tidak mematuhi keputusan FIFA,” tegas Champagne.

Pada bulan Juni lalu, FIFA sudah mengirimkan surat kepada PSSI untuk segera melakukan pemilihan ulang karena FIFA tidak mengakui hasil musyawarah nasional (munas) PSSI pada 20 April lalu yang kembali memilih Nurdin Halid menjadi ketua umum. Sehari setelah Munas tersebut dilakukan, FIFA meratifikasi anggaran dasarnya. Dalam anggaran yang baru, disebutkan seseorang yang dituduh melakukan tindak kriminal dan berada dalam penjara tidak memenuhi syarat untuk ikut serta sebagai calon dalam pemilihan. (tempo.com)

—————————


Ketua Umum Persatuan Sepakbola Seluruh Indonesia (PSSI) Nurdin Halid tetap menolak mengundurkan diri dari jabatannya terkait imbauan Federasi Sepakbola Internasional (FIFA) Selasa lalu. “Buat apa mundur, toh semua program PSSI tetap jalan,” katanya kepada Tempo lewat telepon hari ini.

Nurdin kini mendekam di rumah tahanan Salemba karena kasus penyelewengan dana minyak goreng Bulog. FIFA, lewat sidang komite eksekutifnya Selasa lalu (30 Oktober 2007) WIB, meminta agar PSSI mematuhi kode etik seperti yang tertera dalam artikel 7 kode etik FIFA. Aturan itu menyatakan orang-orang dengan catatan kriminal dianggap tidak memenuhi syarat untuk menjadi pengurus.

Menurut Nurdin sewaktu pemilihan ketua umum pertama (2003) dia belum tersangkut hukum. “Begitu juga dengan pemilihan kedua (2007), saya sudah divonis bebas oleh Pengadilan Negeri,” elaknya.

Menurut Nurdin, berita yang muncul di dalam situs FIFA tersebut merupakan kutipan atas surat FIFA pada bulan Juni. Dalam surat itu, FIFA mempertanyakan soal ketidak-sesuaian Pedoman Dasar yang dihasilkan dalam musyawarah nasional PSSI dengan proses pemilihan ketua. “Jawaban atas surat itu sudah kami berikan dengan mengadakan pertemuan pada 31 Juli,” katanya. (tempo.com)

—————————


Penolakan atas kepemimpinan Nurdin Halid di persepakbolaan Indonesia terus bermunculan. Setelah sebelumnya terpampang besar spanduk yang menyatakan dukungan kepada Nurdin Halid di Stadion Gelora Bung Karno, kini muncul spanduk tandingan.

Sebelumnya, akibat menolak spanduk dukungan untuk Nurdin Halid, penonton Piala AFF 2010 merobek spanduk dukungan tersebut. Hal itu dilakukan saat pertandingan Indonesia vs Malaysia Rabu (1 Desember 2010) lalu.

Saat tim asuhan Alfred Riedl bermain melawan Laos, Sabtu (4 Desember 2010) ini, sebagai tandingan spanduk dukungan terhadap Nurdin, pendukung fanatik tim Merah Putih menggantinya dengan spanduk berwarna merah menjuntai ke bawah. Spanduk itu bertuliskan “Lindungi Indonesia dari Godaan Nurdin yang Terkutuk”.

Dalam pertandingan yang dimenangkan Indonesia dengan skor telak 6-0 itu, teriakan “Nurdin Turun, Nurdin Turun!” juga membahana di stadion kebanggan Indonesia berkapasitas 100.000 penonton tersebut.

Siapa Nurdin?
Siapakah Nurdin Halid? Dan apa yang membuat suporter sepakbola Indonesia serentak meneriakkan dirinya untuk turun dari jabatannya, bahkan memasang spanduk besar atas penolakannya?

Pria kelahiran Makassar ini menjabat sebagai Ketua Umum PSSI sejak tahun 2003, menggantikan Agum Gumelar. Kontroversi dirinya bermula ketika ia terjerat kasus korupsi gula dan beras impor tahun 2004 silam, setahun setelah menjabat sebagai Ketua Umum PSSI.

Saat itu, dirinya mendekam di balik jeruji besi selama dua tahun dan terkena denda uang sebesar 30 miliar rupiah. Namun, ia tetap bertahan sebagai Ketua Umum PSSI, menggunakan hak prerogatifnya.

Setelah bebas, ia kembali terlibat beberapa kasus korupsi, namun selalu lolos dari jeratan hukum. Sebut saja yang paling terkenal, kasus korupsi minyak goreng. Hal ini bahkan membuat Presiden FIFA. Sepp Blatter, gerah dan beberapa kali melayangkan perintah pada PSSI untuk mengganti ketua umumnya, karena sebuah organisasi sepakbola tidak bisa dipimpin oleh seseorang yang terjerat kasus, apalagi pernah menjadi tahanan.

Bahkan, FIFA telah mencoret nama Nurdin Halid sebagai ketua umum PSSI dari website resmi mereka. Namun Nurdin tidak bergeming dan menyatakan tidak akan mundur sebelum masa jabatan berakhir.

Ketika masa jabatannya berakhir tahun 2007 lalu, Nurdin kembali terpilih sebagai Ketua Umum PSSI untuk masa jabatan 2007-2011. Pemilihan ini kontroversial, karena melalui Musyawarah Nasional Luar Biasa (Munaslub), dimana dia menjadi calon tunggal dalam pemilihan tersebut.

Di bawah kepemimpinannya, persepakbolaan Indonesia mengalami berbagai gejolak, mulai dari sistem liga yang kerap berganti, keteledoran koordinasi dengan FIFA, hingga miskinnya prestasi timnas di kancah internasional.

Hal inilah tentunya yang membuat masyarakat penggila bola resah, dan puncaknya ketika Indonesia dipermalukan habis oleh Uruguay beberapa waktu lalu teriakan “Nurdin turun!” terdengar di sepanjang jalannya pertandingan. (tribun.com)

—————————


Statuta FIFA pasal 35 yang sempat mendera Nurdin Halid ternyata tidak menjadi sebuah peluru tajam yang bisa dilepaskan di Kongres Sepakbola Nasional 2010. Ketua Umum PSSI ini menjelaskan jika Statuta FIFA tersebut berbeda dengan Statuta PSSI yang sudah disahkan dalam Munaslub dan ditandatangani oleh FIFA.

Masalah kriminal sempat mendera Nurdin Halid, dalam standar statuta FIFA Pasal 35 butir 4 tertulis, “They…, must not have been previously found guilty of a criminal offense….” Makna dari kalimat tersebut adalah siapa pun yang pernah terlibat tindak pidana kriminal tidak diperbolehkan menjadi Ketua Umum PSSI dan anggota Komite Eksekutif PSSI.

Namun, pada draf Statuta PSSI yang baru Pasal 35 butir 4 dalam versi bahasa Inggris kata “have been previously” ternyata dihapus dan akhirnya tertulis “… must not found guilty of a criminal offense…” dan diartikan dalam statuta berbahasa Indonesia dengan “… harus tidak sedang dinyatakan bersalah atas suatu tindakan kriminal pada saat kongres…”.

Kalimat ini yang sempat dipermasalahkan oleh Ketua KONI Rita Subowo dalam paparan makalahnya. Rita meminta kejujuran dari PSSI dan Nurdin Halid agar mempunyai sikap moral tinggi dan fair dalam melihat suatu masalah.
Nurdin sendiri langsung menjawab kritik dari Rita Subowo. Menurutnya, Statuta PSSI bukanlah penipuan seperti yang dinyatakan Rita atau mantan pemain Timnas Indonesia Sarman Panggabean. PSSI sudah menggelar Munsalub dan soal statuta disahkan dalam Munaslub dan dinyatakan sah juga oleh FIFA dan AFC.

Rita Subowo sendiri yang ditemui seusai sidang, hanya berkomentar singkat mengenai jawaban dari Nurdin tentang masalah statuta FIFA dan PSSI. “Semua itu kan hak dia dan saya bisa menerima. Permasalahan kini menjadi jelas. Ini semakin ramai dan seru,” jelas Rita.

Rita sendiri menyangkal jika KONI terkesan cuek dengan permasalahan di PSSI ini. Menurutnya, beberapa kali KONI sudah berinisiatif mengadakan pertemuan dengan PSSI dan Nurdin Halid, tapi yang bersangkutan tidak pernah hadir.

“Tidak benar jika KONI baru mengangkat masalah ini sekarang. Kami sudah sering memanggil Nurdin, tapi dia tidak pernah hadir,” tegas Rita. (okezone.com)

—————————


Akhir tahun 2009 dan awal 2010 merupakan puncak menurunnya prestasi sepakbola nasional. Indonesia gagal meraih hasil bagus di SEA Games 2009 lalu, dengan menjadi juru kunci penyisihan grup. Hasil memalukan didapat ketika menelan kekalahan dari tuan rumah Laos 2-0, tim yang tak pernah bisa menang dari Indonesia.

Demikian juga kegagalan timnas senior menembus putaran final Piala Asia 2011. Padahal, sejak tahun 1996, tim Merah Putih tidak pernah absen berlaga di kompetisi teratas Asia tersebut, dan kerap menghadirkan kejutan bagi tim-tim tangguh.

Selain itu, peringkat Indonesia di FIFA pun terus mengalami penurunan drastis. Pada Desember tahun lalu, Indonesia masih berkisar di urutan 120-an, namun sekarang sudah berada di peringkat 137.

Dari segi peraturan, PSSI pun melakukan perubahan yang bisa mengelabui FIFA agar ‘mengizinkan’ Nurdin Halid tetap memimpin roda organisasi. Nurdin telah menghilangkan kata ‘pernah’ dala pasal 35 peraturan PSSI. Sekilas, pasal itu tidak berbeda dengan pasal 32 Statuta FIFA.

Dalam pasal 32 Statuta FIFA tertulis orang yang pernah tersangkut masalah kriminal tidak bisa memimpin organisasi sepakbola. Namun di pasal 35, kata ‘pernah’ dihilangkan, sehingga berbunyi orang yang tersangkut masalah kriminal tidak bisa memimpin organisasi. (goal.com)

—————————


Nurdin Halid dipastikan akan aktif kembali memimpin Persatuan Sepakbola Seluruh Indonesia (PSSI) usai perolehan kebebasannya dari Rumah Tahanan (Rutan) Salemba pada hari ini.

“Mungkin dalam waktu dekat, beliau akan aktif kembali di kepengurusan PSSI,” ungkap Sekjen PSSI Nugraha Besoes saat dihubung pers, Kamis (27 November2008).

Namun Besoes belum bisa mematikan kapan Nurdin akan kembali aktif di kantor Pusat PSSI. Menurutnya, Nurdin kemungkinan akan kembali ke kampung halaman terlebih dahulu di  Watampone, Sulawesi Selatan.

“Beliau akan kembali dulu ke kampung halamannya. Istirahat dan urusan keluarga jelas lebih penting. Baru setelah itu aktif kembali di kantor,” lanjut Besoes.

PSSI sendiri belum merencanakan acara penyambutan bebasnya Nurdin Halid. Besoes juga belum merencanakan agenda pertemuan antar pengurus PSSI untuk membahas kembalinya pimpinan mereka tersebut.

Seperti diketahui, Nurdin tersangkut kasus korupsi penyaluran minyak goreng Bulog, dan dikenai masa hukuman dua tahun. Nurdin sendiri belum genap dua tahun menghuni Rutan Salemba.

Nurdin dijebloskan ke Rutan Salemba pada 18 September 2007. Artinya, Nurdin baru menjalani 1 tahun 2 bulan, atau 14 bulan penjara. Nurdin masih kurang 10 bulan lagi untuk menggenapi masa hukumannya. (okezone.com)

—————————


Ketua Umum PSSI Nurdin Halid dinilai telah memolitisasi sepak bola dengan menyebutkan bahwa prestasi timnas di Piala AFF 2011 merupakan karya Partai Golkar.

“Kalau Nurdin enggak mau dinilai memolitisasi timnas, kenapa dia melontarkan pernyataan itu. Dia jelas-jelas telah memolitisasi sepak bola dengan pernyataannya itu,” ujar Sekretaris Umum The Jakmania Richard Achmad saat ditemui wartawan dalam jumpa pers “Tolak Perpanjangan Ketua dan Pengurus PSSI” di Lembaga Bantuan Hukum Jakarta, Rabu (19 Januari 2011).

Pernyataan Nurdin tersebut, kata Richard, membuktikan sepak bola telah ditunggangi elite politik. “Kepentingan elite jelas ada di dalam sepak bola,” kata Richard.

Nurdin memang melontarkan pernyataan yang cukup kontroversial. Dia mengklaim, sukses tim nasional di Piala AFF berkat Partai Golkar yang dipersembahkan kepada seluruh masyarakat Indonesia.

Nurdin yang merupakan Koordinator Wilayah Sulawesi DPP Golkar tersebut menyampaikan pernyataannya tersebut di depan ratusan kader dan simpatisan Golkar Sulawesi Tengah saat menghadiri deklarasi pasangan Aminuddin Ponulele-Luciana Bacule, calon gubernur dan wakil gubernur Sulteng, Selasa (18 Januari 2011). (kompas.com)

—————————


Pernyataan kontroversial Nurdin ini disampaikan di hadapan kader Golkar di Palu. Ketua umum PSSI Nurdin Halid memberikan pernyataan kontroversial ketika menghadiri pendeklarasian calon gubernur Sulteng dan wakilnya di Gedung Olahraga Siranindi, Palu, hari itu.

Dalam kata sambutannya, Nurdin menyatakan, sukses timnas senior di Piala AFF 2010 lalu merupakan hasil karya Partai Golkar yang dipersembahkan kepada seluruh rakyat Indonesia.

“Partai Golkar adalah partai karya, sehingga setiap kader Golkar harus memberi kontribusi terbaik bagi tanah air di manapun mereka berada, termasuk saya sebagai kader Golkar berbuat untuk PSSI,” ujar Nurdin dilansir Tempo Interaktif.

“Banyak cercaan yang dialamatkan kepada saya terkait kepemimpinan di PSSI. Namun mereka mengelu-elukan timnas saat berlaga di lapangan. Padahal keberhasilan timnas tersebut tak lepas dari kepemimpinan saya di PSSI.”

Pernyataan Nurdin yang menjabat sebagai Kordinator DPP Golkar Wilayah Sulawesi ini bertolak belakang dengan imbauannya sebelum Piala AFF 2010 lalu digulirkan. Saat itu, Nurdin meminta agar sepakbola tidak dipolitisasi, karena merupakan milik seluruh bangsa Indonesia. (republika.com)

—————————


Bendahara PSSI dari Partai Demokrat, Achsanul Qosasi, angkat bicara terkait klaim Ketua PSSI Nurdin Halid bahwa kesuksesan timnas karena Golkar. Ia menegaskan bahwa sukses itu karena dukungan rakyat Indonesia.

“Keberhasilan Timnas pada Piala AFF adalah keberhasilan rakyat Indonesia. Bukan keberhasilan partai politik Golkar atau yang lain, tapi rakyat,” ujar Achsanul kepada wartawan di Gedung DPR, Senayan, Jakarta, Rabu (19 Januari 2011).

Menurut Achsanul, Nurdin terlalu bangga dengan sukses timnas hingga keceplosan. Sebab Nurdin halid menang anak buah Ketua Umum Golkar, Aburizal Bakrie.

“Saya menganggap, Pak Nurdin sedang keceplosan saja berbicara seperti itu. PSSI, tidak ada kaitannya dengan politik,” paparnya.

Namun demikian ia tidak mau mempersoalkan pernyataan Nurdin lebih jauh. Ia hanya berharap Nurdin tidak terus menyampaikan hal tersebut.

“Namanya juga keceplosan. Biar saja,” tutupnya.

Sebelumnya diberitakan Nurdin Halid mengatakan bila kesuksesan tim nasional pada laga AFF lalu karena jasa Partai Golkar. Nurdin mengatakan hal tersebut di Gedung Olahraga Siranindi Palu, saat deklarasi pasangan Calon Gubernur Sulteng Aminuddin Ponulele-Calon Wakil Gubernur Luciana Baculu. (detiksport.com)

—————————


Ketua Persatuan Sepakbola Seluruh Indonesia (PSSI) Nurdin Halid menyatakan prestasi tim nasional Indonesia pada Piala AFF Suzuki 2010 karena jasa Partai Golkar. Wakil Ketua DPR RI Pramono Anung menilai pernyataan Nurdin Halid itu menunjukan keegoisannya.

Ditemui di Gedung DPR/MPR RI, Jakarta, Rabu (19 Januari 2011), Pramono menyatakan prestasi timnas akhir-akhir ini adalah milik bangsa, bukan milik partai politik tertentu. “Apalagi prestasi Firman Utina dan kawan-kawan kemarin dibawa pelatih Alfred Riedl,” kata Pramomo. Bila Nurdin mengkooptasi prestasi timnas karena dirinya dan Golkar, politikus PDI Perjuangan menilai Nurdin Halid keblinger.

Sebelumnya, saat deklarasi pasangan calon Gubernur Sulawesi Tengah Aminuddin Ponulele dan Calon Wakil Gubernur Luciana Baculu, Nurdin Halid memuji keberhasilan timnas yang melaju ke babak final piala AFF. Meski gagal menjadi juara, Koordinator Wilayah Sulawesi DPP Partai Golkar ini mengaku bila selama dipimpin dirinya PSSI semakin baik. Nurdin juga mengklaim bila keberhasilan timnas tidak lepas dari jasa partai Golkar. “Keberhasilan timnas tak lepas dari kepemimpinan saya,” ujar Nurdin. (metrotvnews.com)

—————————

 

 

 

Pemerintah Akhirnya Gerah Terhadap Nurdin Halid :

Dari berbagai desakan dan kritikan pedas yang terarah ke Nurdin Halid tidak membuat dirinya untuk mau beranjak dari kediktaktorannya sebagai Kedua Umum PSSI. Nurdin Halid tetap bersikeras menunjukan taringnya, dirinya tidak menggubris sedikitpun desakan-desakan tersebut, padahal prestasi yang dicapai Nurdin Halid sejak menjabat menjadi Ketua Umum PSSI tidak menunjukan raport yang baik, justru sebenarnya prestasi persepakbolaan Indonesia tambah merosot jauh.

Belum lagi klaem Nurdin Halid terhadap terselenggaranya Liga Primer Indonesia (LPI) 2011 yang dipersponsori pengusaha terkenal di Indonesia Arifin Panigoro, Nurdin Halid bersikeras bahwa LPI 2011 tidak sah dan melanggar peraturan serta tatatertib AD/ART PSSI, dan pasal-pasal lainnya yang berhubungan dengan penyelenggaraan sepakbola nasional.

Padahal ujung-ujung Nurdin Halid dan kronco-kronco merasa dirugikan dengan penyelenggaraan LPI yang diperkirakannya akan banyak merauk keuntungan. Nah disinilah letak sebenarnya Nurdin Halid tidak menganggap keberadaan LPI, yaitu tidak mendapatkan segi kormersialnya.

Kekerasan watak serta sifat Nurdin Halid ini akhirnya membuat pemerintahan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono beserta jajarannya menjadi gerah.  Pasalnya penyelenggaraan  Konggres PSSI 2011 menjadi kisruh dan tidak didukung banyak pihak, terutama para pencinta sepakbola nasional dan dari berbagai organisasi sepakbola yang ada  Indonesia. Selain itu sikap kerasnya Nurdin Halid yang sangat tangan besi dan diktaktor menjadikan PSSI tempat ladang politiknya. Pihak-pihak yang bersebrangan dengan dirinya dianggap penghalang dan musuh besarnya. Inilah sosok Nurdin Halid mantan narapidana dari berbagai kasus korupsi,  dirinya masih mau mempertahankan statu guwo untuk stategi politiknya kedepan.

Sepandai-pandainya Tupai melompat akhirnya akan jatuh juga. Mungkinkah Nurdin Halid demikian ?.

“Menteri Negara Pemuda dan Olahraga (Menegpora), Andi Mallarangeng didampingi Ketua KONI/KOI, Rita Subowo memberikan pernyataan resmi di Kantor Kementerian Negara Pemuda dan Olahraga (Kemenegpora), Jakarta, Senin (28 Maret 2011), menyusul kericuhan yang terjadi pada Kongres PSSI di Pekanbaru, Sabtu kemarin. Pemerintah menyatakan tidak lagi mengakui pengurus PSSI.”

Pemerintah bersama dengan KONI-KOI menyatakan tidak lagi mengakui legitimasi PSSI dibawah kepemimpinan Nurdin Halid terkait dengan kegagalan kongres PSSI sesuai dengan instruksi FIFA.

Menpora Andi Mallarangeng di Jakarta, Senin mengatakan tidak mengakui PSSI dibawah kepengurusan Nurdin Halid untuk mencegah hal-hal yang bisa menyebabkan terulangnya kegagalan kongres PSSI akibat terjadinya kericuhan.

Andi yang didampingi Ketua Umum KONI-KOI Rita Subowo menilai, pengurus PSSI tidak kompeten yang bisa terlihat dari ketidak-tertiban di dalam penentuan hak suara, distribusi undangan, penentuan peraturan pemilihan, agenda kongres serta tidak adanya pertanggungjawaban dalam penyelenggaraan kongres.

“Maka berdasarkan kondisi tersebut pemerintah menyatakan tidak mengakui lagi pengurus PSSI dibawah pimpinan Ketua Umum Nurdin Halid dan Sekjen Nugraha Besoes serta seluruh kegiatan keolahragaan yang diselenggarakan kepengurusan PSSI tersebut,” katanya dengan tegas.

Andi menjelaskan, kebijakan tersebut diambil berdasarkan kewenangan pemerintah yang terdapat pada Undang-Undang Nomor 3 tahun 2007 serta Peraturan Pemerintah Nomor 16 tahun 2007.

Kebijakan ini juga diambil demi menyelamatkan organisasi PSSI dan melindungi kepentingan persepakbolaan nasional.

Mantan juru bicara Presiden Susilo Bambang Yudhoyono itu menjelaskan, dengan adanya keputusan tersebut pemerintah baik pusat maupun daerah termasuk Kepolisian Negara Republik Indonesia tidak dapat lagi memberikan pelayanan dan memfasilitasi kepada kepengurusan PSSI saat ini.

“Pemerintah untuk sementara menghentikan penyaluran dana yang bersumber dari APBN sampai terbentuknya kepengurusan PSSI periode 2011-2015,” kata pria asal Sulawesi Selatan itu.

Sikap tegas pemerintah dan KONI/KOI dilakukan setelah kongres PSSI dengan agenda pembentukan Komite Pemilihan dan Komite Banding Pemilihan dibatalkan sepihak oleh PSSI dengan dalih adanya ancaman keselamatan jiwa yang dilakukan pihak ketiga.

Meski demikian, 78 dari 100 pemilik suara sah PSSI tetap menggelar kongres meski tidak dihadiri pengurus PSSI dan pengawas dari FIFA dan AFC. Dalam kongres di Hotel Premiere Pekanbaru itu ditetapkan tiga keputusan penting.

Tiga keputusan besar itu adalah pengesahan Komite Pemilihan dan Komite Banding PSSI, kedua melakukan revisi standar statuta PSSI serta melakukan pemutihan sanksi terhadap semua yang terlibat pada Liga Primer Indonesia (LPI) dan sanksi lain dari PSSI.

Hasil kongres tersebut telah dilaporkan ke FIFA dan selanjutkan akan dilaporkan ke pemerintah dan KONI/KOI.

Saat ini pemilik suara masih menunggu keputusan resmi dari FIFA terkait hasil kongres. (vivanews)

 

 

 

Daftar Dosa Nurdin Halid Terhadap PSSI Dan Persepakbolaan Nasional :

Satu juta Facebooker menuntut Nurdin Halid Mundur sebagai ketua Umum PSSI. Sampai Kamis pukul 21.30, sudah ada 72.880 yang bergabung menuntut Nurdin mundur. Kekecewaan penggemar sepak bola tanah air memuncak setelah perseteruanya PSSI dengan pihak LPI sebagai penyelenggara liga tandingan yaitu liga primiere indonesia. Bahkan pihak PSSI akan mencoret pemain timnas yang berlaga di LPI seperti irfan bachdim ataupun kim jeffrey kurniawan yang sekarang bermain untuk persema malang sbg club peserta LPI…

Sementara dalam akun facebook yang menjaring anggota untuk menuntut Nurdin Halid Mundur,
diungkapkan beberapa item berita atau dosa2 nurdin halid serta lingkaran PSSI, antara lain:

– ketua Umum PSSI yang seorang narapidana

– Menentang statuta FIFA pasal 33 yang berisi larangan untuk menjadi anggota organisasi sepak bola bagi orang yang pernah terjerat kasus kriminalitas.

– Menentang peringatan Presiden FIFA , Sepp Blatter, untuk segera mengganti Nurdin Halid.

– Bendahara PSSI terlibat kasus pembunuhan istrinya sendiri.

– Sekjen PSSI, Nugraha Besoes, yang tidak tergantikan (dari jaman batu sampai komputer).

– Pengelola PSSI daerah yang teguh membela Nurdin Halid demi mengincar uang korupsi.

– Praktis selama 7 tahun kepemimpinan Nurdin, tidak ada satu pun prestasi yang diukir oleh timnas.

– Pertama kali gagal lolos ke putaran final Piala Asia 2011 sejak tahun 1996.

– Timnas U-21 dikalahkan oleh Laos (tim terlemah di Asia Tenggara).

– Indonesia dicoret dari bidding tuan rumah PD 2022 (wajar, berhubung minim lapangan bola dengan kualitas pas-pasan).

– Regenerasi timnas sangat lambat.

– Prestasi timnas terus merosot.

– Peringkat timnas yang merosot tajam (terendah di Asia Tenggara setelah Laos).

– 10 besar top skorer di ISL adalah pemain asing.

– Kerusuhan hampir di setiap pertandingan yang tidak terkendali.

– Fairplay yang sangat rendah.

– Mentah2 menolak berbagai kebijakan FIFA.

– Kualitas berbagai fasilitas sepak bola yang sangat rendah (lapangan bola dsb.)

– Pencarian bakat dan bibit muda yang sangat minim.

– Maraknya pengaturan skor.

– Mafia wasit yang merajarela.

– Maraknya korupsi di badan PSSI.

– Permintaan untuk ikut serta dalam cabang sepak bola di Youth Olympic Games, di Singapura, ditolak, karena dianggap gagal membina bibit usia dini.

– seorang yang terbukti bersalah dan menjadi narapidana menjadi pimpinan sebuah federasi sepakbola, dimana hal ini nyata2 dilarang dalam statuta FIFA dan PSSI.

– hukuman larangan bertanding kandang 2 tahun diremisi menjadi 3 pertandingan (Persebaya, karena masalah suporter CMIIW)

– mengundang tim juara 4 piala dunia, berperingkat 30 kali peringkat FIFA timnas, yang nyata2 bukan lawan seimbang untuk bermain pertandingan persahabatan dengan budget MILYARAN DISAAT bonus tim Persibo Bojonegoro yang “hanya 500 juta” belum dibayarkan.

– seorang pimpinan di tingkat negara, dimana sebagian besar rakyat sudah tidak menaruh kepercayaan namun tetep bersikukuh untuk menjabat.

– melibatkan timnas untuk menghadiri kegiatan yang notabene tidak ada kaitan dengan pertandingan YANG diselenggarakan oleh Pemimpin partai politik. ingat, di adakan KURANG dari satu hari sebelum pertandingan 6. ketua federasi 7 tahun tanpa prestasi, mengkritik seorang pelatih yang baru melatih timnas 3 bulan tidak mampu memberikan prestasi apa2 kepada timnas.

– mengutus sekjen partai G*lkar untuk menangani masalah tiket suporter (Idrus Marham) yang notabene TIDAK ADA sangkut pautnya dengan PSSI.

– memberikan ratusan tiket gratis kepada para pejabat negara di saat masarakat mati2an antri untuk mendapatkan tiket yang harganya terus melonjak.

 

Saatnya sekarang sepak bola indonesia menuju prestasi, yang mestinya di topang oleh kompetisi yang profesional, sehat, bersih, transparan, sportif dan mandiri…!

sumber tulisa : Disari dan dirangkum dari berbagai sumber media terkait |

disari ulang oleh : Syaifud Adidharta.

%d blogger menyukai ini: