Warta Sinar Indonesia Group – Mediatama Bintang Lima Group

Korupsi, Sifat atau Watak?

Budaya Malu di negeri ini memang sangat sulit di masyarakatkan, terlebih lagi budaya Malu sukar sekali dianut oleh kalangan menengah keatas, terutama dikalangan para pemimpin, pejabat dan pengusaha.

Indonesia yang sejak tahun 1997 termasuk negara terbesar ke tiga yang banyak memproduksi manusia bersifat dan berwatak korupsi dari berbagai bidang pekerjaan, karya dan karier. Kini Indonesia sudah memasuki tahun 2011. Di tahun ini Indonesia kembali menyandang gelar kebanggaannya sebagai negara terhebat dengan jumlah tokoh-tokoh korupsi terbanyak di dunia, termasuk negara yang paling banyak korupsi di dunia nomor wahit atau boleh dibilang nomor satu di dunia. Sebuah karya hitam yang menanjak hebat di sandangnya. Sungguh memalukan dan sungguh miris rasanya untuk di sandang bagi kita warga negara Indonesia yang masih punya hati nurani  untuk negeri ini.

Di pemerintahan pusat maupun daerah dan hampir di setiap departermennya selalu saja ada tindakan dan perbuatan korupsi yang dilakukan oleh oknum-oknum tidak bertanggung jawab, dari tingkat jabatan terendah sampai dengan tingkat jabatan teratas. Dari korupsi waktu, korupsi pekerjaan sampai dengan korupsi anggaran.

Hal ini juga banyak terjadi di badan legislatif yang terdapat di pusat maupun di daerah, tidak sedikit pula para wakil rakyat melakukan perbuatan dan tindakan yang memalukan dengan penggelapkan uang rakyat dengan dalil yang bermacam-macam. Dan hampir di setiap sudut negeri ini mudah untuk mencari peluang penghasilan tambahan yang bersifat korupsi. Setelah bisa jadi sebagai penghasilan tetap dengan pekerjaan korupsi.

Di Indonesia memang banyak harapan untuk melakukan perbuatan korupsi dalam bentuk apapun. Korupsi tidak hanya dalam bentuk materi saja, korupsi juga bisa dilakukan dalam bentuk permainan hukum dan kasus, hal ini sudah sering terjadi di setiap sudut badan-badan hukum dan peradilan di Indonesia, termasuk terjadinya perbuatan korupsi tentang kasus tindakan pidana maupun perdata yang sudah masuk berkas perkaranya di Kepolisian Republik Indonesia dan Pengadilan Tingkat Tingggi lainnya.

Contoh seperti kasus Anggodo Widjojo yang terlibat dan berbuat perbuatan permaian hukum penyuapan kepada oknum-oknum Polri dan Pengadilan. Dan sungguh milis para oknum-oknum tersebut justru memberi peluang lebar kepada Anggodo Widjojo dalam prakteknya.

Dalam hal ini Anggodo Widjojo diduga menjadi aktor intelektual di balik dugaan rekayasa kasus terhadap Bibit Samad Rianto dan Chandra Hamzah. Berdasarkan rekaman yang diputar di Mahkamah Konstitusi, jaringannya sudah menyebar dari mulai dari kalangan Pengedar Narkoba, Pengusaha, Pengacara, hingga kalangan elit penegak hukum di Kejaksaan dan Kepolisian, dll. (lihat video rekaman Jaringan Mafia Anggodo Widjojo di salah satu tv swata nasional : ( http://www.youtube.com/watch?v=FzxXYtg-hx4&feature=player_embedded). Ini baru sebagian saja contoh nyata tentang Korupsi di Indonesia yang sungguh menjadi catatan hitam negeri ini.

Kasus korupsi lainnya pun juga masih hangat di negeri ini yaitu Makelar Kasus tentang perpajakan yang melibatkan Gayus Tambunan si Belut Racun. Gayus memang sangat licin selicin Belut Rawa yang sulit untuk di tangkap dan di penjarakan. Di dalam penjara saja Gayus masih bisa berekreasi ke pulau Dewata Bali. Walau saat ini Gayus sudah tertangkap kembali setelah dari Bali tapi kasusnya masih di atas awang-awang di setiap persidangan. Ada apakah di drama pengadilan Gayus Saat ini ?. Jawabannya cukup ada PERMAIANAN UANG. Dengan demikian pengadilan kasus Gayus hanya sebuah drama, termasuk pengadilan-pengadilan kasus korupsi lainnya. Inilah mata hukum Indonesia. Adil buat si kaya yang berkuasa dan beruang. Tidak adil buat si miskin yang hanya tinggal tulang…

Sungguh sulit memang mengurangi atau memberantas perbuatan tindakan korupsi yang dilakukan oleh orang-orang tidak bertanggung jawab di negeri ini. Sungguh mubajir adanya pembentukan sebuah badan khusus untuk menangani dan menanggulangi perbuatan korupsi di negeri ini, contohnya KPK dan badan-badan hukum lainnya. Semua hanya sebuah permainan dan proyek yang tidak jelas. Padahal semua itu di bentuk dan di ciptakan menggunakan biaya uang rakyat negeri ini.

Sungguh sulit memang memberantas dan membumi hanguskan korupsi di negeri ini. Sepertinya perbuatan tindakan korupsi sudah menjadi sebuah budaya paten yang perlu di lestarikan untuk selama-lamanya. Kalau sudah seperti ini apakah Indonesia bisa keluar dari kesulitan ekonomi dan kemiskinan. Sementara masih banyak rakyat Indonesia yang hidup dibawah garis kemiskinan dan kebodohan.

Inilah yang sampai sekarang masih menjadi pekerjaan rumah untuk kita semua. Pekerjaan rumah yang tidak mudah untuk dikerjakan dengan waktu singkat. Pekerjaan rumah yang harus diiringi adanya kemauan dan tekat bulat untuk menghilangkan budaya korupsi, dan adanya kemauan untuk memiliki rasa Malu dalam perbuatan korupsi. Juga pekerjaan rumah  untuk bisa berusaha merubah sifat dan watak buruk dalam perbuatan korupsi.

Maka dengan demikian kita kembali kepada kepada diri kita masing-masing. Apakah kita iklas memberi makan dan nafkah kepada seluruh anggota keluarga kita dari hasil yang tidak halal ?. Lalu apakah kita akan terus-menerus memakan hasil uang haram yang kita dapati ?. Dan dimanakah Iman kita saat ini ?. Semua itu jawabannya ada pada diri kita sendiri dengan hati nurani yang sesungguhnya. (kompasiana.com – Syaifud Adidharta)

%d blogger menyukai ini: