Warta Sinar Indonesia Group – Mediatama Bintang Lima Group

Para pejabat RI menerima suap

 

Anton Alifandi

BBC Indonesia

 

Perusahaan Inggris Innospec mengaku menyuap pejabat-pejabat Pertamina, BP Migas dan sejumlah kementerian negara Pejabat-pejabat Indonesia menerima suap sekitar US$ 8 juta dari sebuah perusahaan multinasional di Inggris.

Angka ini disampaikan Hakim Lord Justice Thomas dalam sidang korupsi atas perusahaan kimia Innospec Limited hari Jumat 26 Maret 2010 berkaitan dengan penjualan Tetra Ethyl Lead (TEL) yang digunakan dalam bensin bertimbal.

Dalam putusannya, hakim secara khusus menyebut mantan Dirjen Migas dan Kepala BP Migas Rachmat Sudibyo yang menerima suap lebih dari US$ 1 juta atau sekitar Rp 9 miliar. Nama lain yang disebut dalam putusan adalah mantan Direktur Pengolahan Pertamina, Suroso Atmo Martoyo. Hakim menetapkan denda US$ 12,7 juta kepada Innospec atas perbuatan korupsi yang menurutnya sangat parah.

“Pembayaran-pembayaran itu disamarkan secara hati-hati dari auditor yang berasal dari sebuah perusahaan akuntansi terkemuka,” kata hakim.

Innospec Limited yang berkedudukan di Cheshire, Inggris Utara, sudah mengaku bersalah atas dakwaan korupsi yang diajukan dalam sidang di Southwark Crown Court, London, 18 Maret 2010 lalu.

Melalui agennya di Indonesia PT Soegih Interjaya, Innospec mengakui menyuap para pejabat Pertamina, BP Migas, dan pejabat-pejabat tinggi pemerintah Indonesia lainnya untuk menjual TEL.

Badan antikorupsi Inggris, Serious Fraud Office (SFO), dalam dakwaannya mengatakan penyuapan ini melanggar Undang-Undang Anti-Korupsi Inggris dan memperpanjang pemakaian bahan bakar bertimbal di Indonesia.

Pada tahun 1996 pemerintah Presiden Soeharto mencanangkan bensin bertimbal akan dihapus selambat-lambatnya Desember 1999, akan tetapi target itu tidak tercapai sehingga pemerintah menetapkan target baru pembebasan bensin bertimbal pada 1 Januari 2003.

Namun ternyata bensin bertimbal baru bisa dihapuskan dari Indonesia pada 1 Juli 2006.

Sejumlah alasan seperti kilang yang belum siap, biaya yang terlalu mahal dan krisis ekonomi diajukan oleh Pertamina dan Ditjen Migas sebagai alasan keterlambatan penghapusan bensin bertimbal.

Pemerintah Indonesia mencanangkan penghapusan bensin bertimbal karena kandungan timbal di atas tingkat tertentu, berbahaya bagi kesehatan.

Komisi dan suap

Innospec menjual TEL senilai US$ 170 juta dengan komisi US$ 11 juta 

Perkara yang diajukan ke pengadilan mencakup periode antara 14 Februari 2002 hingga 31 Desember 2006.

Pada masa itu nilai penjualan TEL yang dilakukan Innospec ke Indonesia adalah US$ 170.176.007,50.

Untuk mendapat kontrak sebesar itu Innospec membayar komisi sebanyak US$ 11.7888.824,72 kepada agennya di Indonesia PT Soegih Interjaya (PT SI).

PT SI sudah menjadi agen bagi Innospec sejak tahun 1982.

Uang itu antara lain dipakai oleh PT SI untuk menyuap para pejabat BP Migas, Pertamina, dan pejabat-pejabat pemerintah lainnya.

Salah seorang eksekutif Innospec, dalam email yang dimuat dalam dakwaan mengungkapkan bahwa antara 1 Januari 2000 sampai 22 Desember 2006 penjualan TEL dari Innospec ke Pertamina bernilai US$ 277 juta.

Perbuatan korupsi Innospec Limited mulai terbongkar tahun 2005 setelah induk perusahaannya di Amerika Serikat, Innospec Inc, diselidiki oleh Departemen Kehakiman negara itu, DOJ, karena melakukan suap kepada pemerintah Irak dalam penjualan TEL.

Innospec Inc juga melanggar undang-undang Amerika karena melakukan perdagangan dengan Kuba.

Innospec Inc kemudian melakukan plea bargain dengan pihak berwenang Amerika Serikat dimana perusahaan itu mengaku bersalah dengan imbalan hukuman yang lebih ringan.

Sebagai bagian dari penyelesaian global atas perkara ini, pihak berwenang Amerika melibatkan SFO dengan pembagian tugas dimana pihak Amerika menyelidiki perbuatan korupsi Innospec di Irak dan Kuba, sedangkan SFO berkonsentrasi pada kasus Indonesia.

Berdasarkan kesepakatan ini, direksi Innospec sendiri pada tahun 2008 melaporkan kepada SFO tentang korupsi yang melibatkan sejumlah bekas eksekutifnya.

Innospec juga menyewa perusahaan audit KPMG untuk melacak transaksi keuangan antara PT SI dan pejabat-pejabat Indonesia.

Penerima suap

Nama Rachmat Sudibyo dan Suroso Atmo Martoyo disebut dalam putusan 

Dakwaan itu secara terinci memaparkan komunikasi antara Innospec dan PT SI, tentang bagaimana dua eksekutif PT SI, Willy Sebastian dan Mohamed Syakir, menyuap pejabat-pejabat Pertamina dan BP Migas agar tetap membeli TEL dari Innospec.

Innospec membayar PT SI dengan dua cara yaitu komisi umum dan pembayaran ad-hoc, yang diketahui oleh Innospec akan dipakai oleh PT SI untuk menyuap pejabat – pejabat Indonesia.

Komisi yang dibayarkan Innospec sebelum tahun 2005 bernilai antara 1% sampai 5% dari nilai kontrak, namun jumlah itu dinaikkan menjadi 10% sejak tahun 2005 dan bahkan bila diperlukan jumlah itu bertambah.

Dalam dakwaan disebutkan bahwa Innospec membuka sejumlah pos dana suap khusus yang antara lain disebut Dana Rachmat Sudibyo, Dirjen Minyak dan Gas yang kemudian menjadi Kepala BP Migas.

Ketika ditanya BBC, Rachmat membantah menerima suap dari PT SI.

Dakwaan itu menyebutkan bahwa pada tahun 2001 dan awal 2002, Innospec membayar suap sebanyak US$ 265.000 dan US$ 295.150 kepada Rachmat Sudibyo karena Pertamina membeli TEL dari Innospec dalam jumlah tertentu.

Menurut dakwaan ini, Rachmat dibayar US$ 40 per ton untuk pembelian di atas 4.000 ton, dan US$ 50 per ton untuk pembelian di atas 5.000 ton.

Masih dari dakwaan itu, Mohamed Syakir dari PT SI mengatakan dalam email tanggal 18 Desember 2003, bahwa Direktur Hilir Pertamina yang baru meminta komisi dari penjualan Innospec ke Pertamina dalam jumlah yang besar, tidak dalam hitungan ‘sen’.

Dalam email tertanggal 2 Desember 2003, Syakir mengungkapkan bahwa Innospec mendapat pesaing dari perusahaan Cina yang juga berniat menjual TEL kepada Pertamina.

Karena itu agen Innospec kemudian menyuap pejabat-pejabat Pertamina untuk mempertahankan posisi Innospec.

Nama lain yang banyak disebut dalam dakwaan ini adalah mantan direktur pengolahan Pertamina Suroso Atmo Martoyo.

Dakwaan itu juga menyebutkan bahwa mulai tahun 2003 Innospec menjadikan Suroso sebagai target dalam hubungannya dengan Pertamina.

Dalam email tanggal 30 November 2004, Syakir mengatakan Suroso meminta komisi US$ 500 per ton untuk pembelian 446 ton TEL dari Innospec seharga US$ 11.000 per ton.

Dakwaan SFO juga menyebutkan bahwa Innospec memberi dana US$ 100.000 kepada PT SI untuk memberi suap agar perundangan yang akan melarang TEL dilawan.

Dalam bagian lain dakwaan juga disebutkan bagaimana PT SI menggunakan kontaknya di BP Migas dan Pertamina untuk mempertahankan penggunaan TEL.

Nama-nama lain yang disebut menerima suap dalam dakwaan SFO adalah ‘Ery’ dan ‘Iin’.

Menanggapi berita ini, juru bicara Pertamina Basuki Trikora Putra mengatakan kepada BBC bahwa impor TEL sebelum 2006 sudah dilakukan sesuai dengan prosedur pengadaan tender dan perusahaannya tidak mengetahui soal suap menyuap yang disidangkan di pengadilan Inggris.

SFO juga bekerjasama dengan polisi di Cheshire, Inggris Utara, yang melakukan penyelidikan pidana atas keterlibatan para eksekutif Innospec.

sumber : BBCnews

Menghapus bensin bertimbal di Indonesia

 

Anton Alifandi

BBC Indonesia

Bensin bertimbal menurunkan IQ anak 

Upaya pembebasan Indonesia dari bensin bertimbal dimulai dengan pencanangan Program Langit Biru oleh Presiden Soeharto pada tahun 1996.

Pencanangan program itu dilakukan setelah Indonesia menghadiri pertemuan puncak Earth Summit di Rio de Janeiro, Brasil, yang antara lain menyebutkan Jakarta sebagai kota paling tercemar di dunia setelah Kota Meksiko dan Bangkok.

Dari segi kesehatan, penggunaan bensin bertimbal menyebabkan keracunan yang antara lain menimbulkan penurunan IQ.

Penggunaan bensin bertimbal untuk kendaraan bermotor mulai dihapus di Amerika Serikat pada tahun 1970an, dan di Eropa pada tahun 1990an.

Pusat Pengendalian Penyakit Amerika Serikat dan Badan Kesehatan Dunia WHO, menyatakan kandungan Tetra Ethyl Lead yang digunakan dalam bensin bertimbal sudah dinyatakan berbahaya apabila berada pada tingkat 10 mikrogram per desi Liter darah(μg/dL).

Menurut Program Langit Biru ini, Indonesia sudah akan bebas bensin bertimbal selambat-lambatnya Desember 1999.

Akan tetapi target itu ternyata tidak tercapai sehingga pada tahun 1999 itu juga Menteri Pertambangan dan Energi Kuntoro Mangkusubroto menetapkan target agar bensin bertimbal terhapus pada 1 Januari 2003.

Namun target baru itu pun tidak tercapai karena sejumlah alasan.

Tidak siap Penghapusan bensin bertimbal di Indonesia

 

  • 29 Oktober 1996: Presiden Soeharto mencanangkan penghapusan bensin bertimbal pada Desember 1999 dalam program Langit Biru.
  • 13 Oktober 1999: Menteri Pertambangan dan Energi Kuntoro Mangkusubroto menetapkan target baru penghapusan bensin bertimbal, 1 Januari 2003.
  • 1 Juli 2001: Jakarta dan sekitarnya bebas bensin bertimbal, disusul dengan kota-kota besar lain.
  • 1 Juli 2006: Seluruh Indonesia bebas bensin bertimbal

“Lagi-lagi dikembangkan isu ketidaksiapan kilang dan kondisi ekonomi tidak memungkinkan untuk melakukan perbaikan kilang,” kata Koordinator Komite Pembebasan Bensin Bertimbal Ahmad Syafrudin.

Ahmad mengatakan alasan-alasan ini dikemukakan oleh Pertamina, Ditjen Migas dan Departemen Keuangan.

Karena target itu tidak menunjukkan tanda-tanda akan terpenuhi, Kementrian Lingkungan Hidup dan LSM seperti Komite Pembebasan Bensin Bertimbal menempuh strategi mendesak penghapusan bensin bertimbal secara bertahap.

Pada 1 Juli 2001 Jakarta dan sekitarnya yang mengkonsumsi 30% pemakaian bensin di Indonesia sudah bebas dari bensin bertimbal.

Kawasan lainnya di Indonesia seperti kota Cirebon pada Oktober 2001, Pulau Bali pada tahun 2002 dan Pulau Batam pada tahun 2003 menyusul langkah Jakarta dan dinyatakan bebas bensin bertimbal.

Argumen yang diajukan oleh KPBB adalah bensin bertimbal menurunkan IQ anak-anak Indonesia. Pada tahun 2004 KPBB melakukan penelitian kadar timbal dalam darah anak-anak Indonesia di Bandung, Makassar, Palembang, dan Surabaya.

“Di Makassar 90% anak-anak mempunyai kadar timbal dalam darah di atas 10μg/dL,” kata Ahmad kepada BBC.

Hasil penelitian ini disampaikan oleh KPBB kepada Menteri Perhubungan ketika itu Hatta Rajasa yang kemudian mengirim surat kepada Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral Purnomo Yusgiantoro agar penggunaan bensin bertimbal segera dihentikan. Akan tetapi Indonesia secara keseluruhan baru terbebas dari bensin bertimbal pada 1 Juli 2006.  (sumber : BBCnews)

%d blogger menyukai ini: